Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, dan sebuah kisah tentang kehadiran, kasih, dan harapan di tengah korban gempa

Oleh: Irminus Deni
Pemimpin Redaksi TerranusaNews.com
Ada saat ketika manusia tidak membutuhkan banyak kata. Ia hanya membutuhkan seseorang yang datang. Duduk di sampingnya. Mendengarkan. Menggenggam tangannya. Dan berkata dengan sederhana: “Jangan takut. Kamu tidak sendirian.”
Barangkali kalimat sederhana itulah yang paling tepat menggambarkan kehadiran Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, Uskup Agung Ende, ketika turun langsung menemui para korban gempa dari tenda ke tenda.
Di tengah suasana duka dan ketidakpastian, ketika banyak keluarga harus meninggalkan rumah dan berteduh di bawah tenda darurat, kehadiran sang bapa gembala menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar kunjungan. Ia adalah penguatan. Ia adalah persaudaraan. Ia adalah tanda bahwa Gereja berjalan bersama umatnya.
Sang Gembala Datang kepada Domba-Dombanya
Gempa tidak hanya mengguncang tanah. Gempa juga mengguncang hati manusia. Ada anak-anak yang ketakutan. Ada orang tua yang kehilangan rasa aman. Ada keluarga yang harus tidur di tempat terbuka. Ada lansia yang mungkin hanya bisa memandangi rumahnya dari kejauhan. Ada pula mereka yang tidak tahu bagaimana kehidupan akan dimulai kembali setelah bencana.
Dalam situasi seperti itu, kedatangan seorang bapa gembala memiliki makna yang sangat dalam. Mgr. Paulus Budi Kleden tidak memilih melihat penderitaan umat hanya dari laporan. Ia datang. Ia berjalan dari satu tenda ke tenda lainnya. Ia menemui umat. Ia melihat wajah mereka. Ia mendengarkan cerita mereka. Ia memberikan penguatan. Sederhana. Tidak ada kemewahan. Tidak ada jarak.
Hanya seorang gembala yang datang kepada umatnya. Dan justru dalam kesederhanaan itulah, makna kegembalaan menjadi begitu indah. Sebab seorang gembala tidak hanya dikenal karena ia mampu menunjukkan jalan. Seorang gembala juga dikenal karena ia bersedia berjalan bersama mereka yang sedang berada dalam jalan yang sulit.
Ada Air Mata yang Tidak Bisa Dijawab dengan Kata-Kata
Di tempat pengungsian, kita mungkin akan menemukan banyak cerita yang tidak mudah diceritakan. Tentang rumah yang rusak. Tentang harta benda yang hilang. Tentang malam-malam panjang yang dilalui dengan rasa takut. Tentang anak-anak yang tiba-tiba kehilangan rasa nyaman. Tentang orang tua yang hanya berharap keluarganya tetap selamat.
Pada titik seperti itu, tidak semua penderitaan membutuhkan jawaban. Sebagian hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan. Dan ketika seorang uskup datang, duduk bersama umat, makan bersama mereka, berbicara dengan mereka dan memberikan penguatan, ada pesan yang jauh lebih besar daripada kata-kata yang terucapkan “Saya melihat penderitaanmu.” “Saya mendengarkanmu.” “Saya bersamamu.”
Bagi orang yang sedang kehilangan, pesan seperti itu bisa menjadi sumber kekuatan. Sebab dalam bencana, manusia tidak hanya membutuhkan bantuan untuk bertahan hidup. Manusia juga membutuhkan alasan untuk kembali berharap.
Ketika Jubah Kegembalaan Menjadi Tanda Kehadiran
Ada banyak cara seorang pemimpin menunjukkan kepemimpinannya. Ada yang berbicara melalui keputusan. Ada yang bekerja melalui kebijakan. Ada yang memimpin melalui organisasi. Tetapi ada pula kepemimpinan yang berbicara melalui kehadiran.
Kehadiran Mgr. Paulus Budi Kleden di tengah para korban memperlihatkan bentuk kepemimpinan yang sangat manusiawi. Ia tidak datang sebagai orang yang berjarak dari penderitaan. Ia hadir sebagai seorang bapak. Seorang bapak yang ingin memastikan anak-anaknya tidak merasa ditinggalkan ketika menghadapi masa sulit.
Karena itu, foto sederhana seorang uskup berada di tengah umat di bawah tenda pengungsian sesungguhnya menyimpan pesan yang sangat dalam. Tidak ada mimbar. Tidak ada altar. Tidak ada ruang megah. Yang ada hanyalah tenda, tikar, makanan sederhana dan wajah-wajah manusia yang sedang berjuang untuk bangkit. Namun justru di tempat seperti itulah kasih persaudaraan menemukan wajahnya.
Dari Seorang Gembala Menjadi Gerakan Bersama
Yang membuat langkah pastoral ini semakin berarti adalah bahwa perhatian terhadap korban bencana tidak berhenti pada kehadiran Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD sendiri. Ia juga mengeluarkan surat penugasan kepada para imam se-Keuskupan Agung Ende untuk hadir dan memberikan pelayanan kepada umat yang terdampak bencana.
Pesannya jelas. Penderitaan umat adalah panggilan bagi seluruh Gereja. Para imam dipanggil untuk hadir. Menemui umat. Mendengarkan mereka. Memberikan penguatan. Dan bersama masyarakat mengambil bagian dalam proses pemulihan.
Surat itu menjadi tanda bahwa seorang gembala tidak berjalan sendirian. Ia menggerakkan para gembala lainnya. Dari satu imam ke imam lainnya. Dari satu paroki ke paroki lainnya. Dari satu komunitas ke komunitas lainnya.
Sehingga kepedulian tidak berhenti sebagai tindakan pribadi, tetapi berkembang menjadi gerakan persaudaraan. Di sinilah kekuatan Gereja terlihat. Ketika seorang gembala bergerak, umat pun tergerak. Ketika seorang imam hadir, umat merasa ditemani. Ketika komunitas bergerak bersama, penderitaan menjadi lebih ringan.
Gempa Boleh Mengguncang Tanah, Tetapi Jangan Mengguncang Harapan
Bencana selalu mengajarkan satu hal penting. Manusia ternyata jauh lebih kuat ketika tidak menghadapi penderitaan sendirian. Sebuah rumah dapat dibangun kembali. Jalan dapat diperbaiki. Barang-barang yang hilang perlahan dapat digantikan.
Tetapi yang paling penting adalah memastikan bahwa harapan manusia tidak ikut runtuh bersama bangunan yang roboh. Di sinilah kehadiran seorang bapa gembala menjadi sangat berarti. Mgr. Paulus Budi Kleden mungkin tidak dapat mengembalikan semua rumah yang rusak.
Tidak dapat menghapus semua ketakutan. Tidak dapat mengembalikan semua yang hilang. Tetapi ia dapat memberikan sesuatu yang sangat berharga penguatan untuk bangkit. Dan terkadang, itulah yang paling dibutuhkan manusia setelah bencana. Seseorang yang datang dan berkata “Kita akan melewati ini bersama.”
Anak-Anak, Lansia, dan Mereka yang Paling Membutuhkan
Di antara para korban bencana, selalu ada kelompok yang membutuhkan perhatian lebih. Anak-anak yang belum mampu memahami sepenuhnya apa yang sedang terjadi. Lansia yang membutuhkan pendampingan. Ibu dan bayi yang membutuhkan perlindungan. Penyandang disabilitas yang membutuhkan bantuan khusus.
Keluarga yang kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan. Karena itu, kehadiran Gereja melalui para imam, komunitas umat, kaum muda, lembaga sosial dan relawan menjadi sangat penting. Bukan hanya memberikan makanan. Bukan hanya memberikan pakaian. Tetapi juga memberikan rasa aman. Menghadirkan pendampingan. Mendengarkan. Menghibur. Dan membantu masyarakat perlahan-lahan kembali berdiri. Inilah wajah kemanusiaan yang kita harapkan tumbuh semakin kuat setelah bencana.
Sebuah Foto, Sebuah Pesan
Kadang-kadang sebuah foto mampu mengatakan lebih banyak daripada seribu kata. Foto Mgr. Paulus Budi Kleden yang duduk bersama umat di tengah tenda pengungsian adalah salah satunya. Seorang uskup. Di tengah umatnya. Tidak berdiri jauh. Tidak berada di tempat khusus. Tetapi berada di antara mereka yang sedang mengalami penderitaan.
Foto itu mungkin hanya berlangsung dalam satu momen. Namun pesannya panjang. Bahwa seorang gembala hadir ketika domba-dombanya membutuhkan penguatan. Bahwa Gereja tidak hanya hadir dalam perayaan ketika semuanya berjalan baik.
Gereja juga hadir dalam kesedihan. Dalam kehilangan. Dalam ketakutan. Dalam perjuangan untuk bangkit. Dan bahwa kasih persaudaraan bukan hanya sesuatu yang kita ucapkan. Ia harus hadir dalam tindakan.
Kita Tidak Tahu Apa yang Akan Terjadi Besok
Korban gempa mungkin belum tahu kapan rumah mereka dapat dibangun kembali. Mereka mungkin belum tahu bagaimana memulai kembali kehidupan ekonomi. Mereka mungkin masih takut ketika malam tiba. Mereka mungkin masih terbangun karena suara kecil yang mengingatkan mereka pada guncangan bumi. Tetapi ada satu hal yang bisa mereka tahu mereka tidak sendirian.
Ada keluarga. Ada tetangga. Ada relawan. Ada pemerintah. Ada komunitas. Ada para imam. Dan ada Gereja yang datang untuk berjalan bersama mereka. Itulah makna terdalam dari kehadiran seorang bapa gembala. Ia tidak datang membawa janji bahwa semua persoalan akan selesai dalam satu hari. Ia datang membawa keyakinan bahwa persaudaraan akan membantu manusia melewati hari-hari yang sulit.
Dari Tenda-Tenda Itu, Harapan Tumbuh
Pada akhirnya, yang kita lihat dari langkah Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD bukan sekadar seorang uskup yang mengunjungi korban gempa. Kita melihat seorang bapa gembala yang memilih hadir. Ia turun ke tengah umat. Ia mendengarkan. Ia menguatkan.
Dan melalui surat penugasan kepada para imam se-Keuskupan Agung Ende, ia mengajak seluruh Gereja untuk mengambil bagian dalam perjalanan panjang pemulihan. Inilah kepemimpinan yang tidak membutuhkan banyak simbol.
Sebab kehadiran itu sendiri sudah menjadi simbol. Simbol bahwa ketika umat menangis, ada yang datang untuk menghibur. Ketika umat takut, ada yang datang untuk menguatkan. Ketika umat kehilangan, ada yang datang untuk menemani. Dan ketika umat hampir kehilangan harapan, ada yang datang untuk mengatakan “Bangkitlah. Kita berjalan bersama.”
Gempa boleh mengguncang bumi. Rumah boleh roboh. Tenda boleh menjadi tempat tinggal sementara. Tetapi jangan biarkan harapan runtuh. Sebab selama masih ada persaudaraan, selalu ada jalan untuk bangkit.
Selama masih ada kepedulian, selalu ada kekuatan untuk memulai kembali. Dan selama masih ada seorang bapa gembala yang mau turun ke tenda-tenda, duduk bersama umat, mendengarkan mereka dan menguatkan mereka, kita tahu satu hal Gereja hadir di tengah luka manusia.
Dari tenda-tenda pengungsian itu, sebuah pesan sederhana sedang disampaikan kepada kita semua. Kasih tidak selalu datang dalam bentuk yang besar. Kadang-kadang kasih datang dalam bentuk seorang gembala yang memilih datang, duduk, mendengar, dan menemani. Dan mungkin, bagi mereka yang sedang kehilangan, kehadiran itu adalah awal dari sebuah harapan baru.




