NGADA Terranusanews.com  — Kampung Adat Bena memiliki hampir semua modal untuk menjadi destinasi wisata budaya yang kuat. Rumah adat yang khas, warisan megalitikum, tenun, kehidupan masyarakat adat, serta panorama Gunung Inerie menjadi daya tarik yang tidak dimiliki semua daerah.

Namun ada satu persoalan yang menarik perhatian tim peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Bena masih cenderung menjadi tempat persinggahan wisatawan, bukan tujuan utama perjalanan. Wisatawan datang, menikmati suasana kampung adat, mengambil gambar, kemudian melanjutkan perjalanan.

Pertanyaannya, bagaimana membuat wisatawan tidak hanya datang, tetapi tertarik tinggal lebih lama, berbelanja produk masyarakat, menggunakan jasa lokal, kembali lagi, bahkan merekomendasikan Bena kepada wisatawan lainnya? Pertanyaan inilah yang sedang dikaji ITB melalui program Penelitian, Pengabdian Masyarakat, dan Inovasi (PPMI).

Tema risetnya cukup menarik:

“Dari Titik Transit Menuju Destinasi Bernilai Tinggi: Memanfaatkan Customer Lifetime Value (CLV) dan Analisis Penting-Kinerja dalam Transformasi Digital Desa Tradisional Bena.”

Dalam riset ITB tersebut, Bena ditempatkan sebagai situs megalitikum dengan potensi produk wisata high-value. Tetapi kekuatan budaya belum otomatis menghasilkan manfaat ekonomi yang maksimal bagi masyarakat. Pendapatan dari tenun atau kerajinan, jasa pemandu dan tiket masuk, misalnya, masih perlu dikembangkan agar memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat lokal.

Karena itu, ITB tidak hanya bertanya tentang jumlah wisatawan. Yang ingin dilihat adalah nilai wisatawan bagi Bena dalam jangka panjang. Di sinilah konsep Customer Lifetime Value (CLV) digunakan. Sederhananya, CLV mencoba melihat seorang wisatawan bukan hanya dari uang yang dibelanjakan pada satu kali kunjungan.

Tetapi juga dari kemungkinan ia kembali, tinggal lebih lama, membeli produk lokal, menggunakan jasa masyarakat, serta mengajak atau merekomendasikan Bena kepada orang lain. Dengan pendekatan ini, ukuran keberhasilan Bena tidak hanya “Berapa orang yang datang?” Tetapi juga “Berapa nilai yang ditinggalkan wisatawan bagi masyarakat Bena?”

Gagasan ini menjadi penting karena destinasi wisata tidak selalu harus mengejar jumlah pengunjung sebanyak-banyaknya. Wisatawan yang datang dalam jumlah besar tetapi hanya sebentar tentu berbeda nilainya dengan wisatawan yang tinggal lebih lama dan menggunakan lebih banyak produk serta jasa masyarakat lokal.

Karena itu, Bena membutuhkan strategi yang lebih tepat. Bukan sekadar mendatangkan wisatawan. Tetapi mengenali wisatawan yang tepat dan membangun hubungan dengan mereka. Dalam konteks inilah data menjadi penting.

Riset ITB juga melihat bahwa pengelolaan Bena masih perlu memperkuat pemanfaatan data digital dan electronic word-of-mouth (e-WOM). Hari ini, keputusan seseorang untuk mengunjungi sebuah destinasi sering kali dipengaruhi oleh apa yang mereka lihat di media sosial, video perjalanan, foto, komentar dan pengalaman wisatawan sebelumnya.

Pengalaman satu orang bisa menjadi promosi bagi orang berikutnya. Karena itu, Bena tidak cukup hanya memiliki keindahan dan cerita budaya. Cerita tentang Bena juga harus hadir dengan baik di ruang digital. Namun digitalisasi bukan berarti mengubah Bena menjadi destinasi yang seragam dengan tempat wisata lainnya. Justru teknologi harus digunakan untuk memperkuat keunikan Bena.

Bena memiliki karakter yang berbeda. Kampung ini berada di Desa Tiwuriwu, Kecamatan Aimere, Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur. Kampung Bena berada di puncak bukit dengan latar Gunung Inerie. Di dalam kampung terdapat sekitar 45 rumah yang tersusun mengelilingi ruang kampung.

Masyarakatnya terdiri dari sembilan suku, yakni Suku Bena, Dizi, Dizi Azi, Wahto, Deru Lalulewa, Deru Solamae, Ngada, Khopa dan Ago. Struktur kampung dengan tingkatan yang menjadi bagian dari identitas masyarakat tersebut membuat Bena bukan hanya tempat untuk melihat rumah tradisional.

Bena adalah ruang hidup masyarakat adat. Karena itu, pembangunan pariwisata harus tetap menghormati kehidupan dan nilai budaya masyarakat. Jangan sampai karena ingin membuat Bena lebih ramai, justru budaya yang menjadi daya tarik utama Bena perlahan kehilangan makna.

Selain CLV, penelitian ini menggunakan Importance Performance Analysis (IPA). Bahasanya sederhana, peneliti ingin melihat apa yang dianggap penting oleh wisatawan dan bagaimana kondisi Bena saat ini dalam memenuhi hal tersebut.

Misalnya, apakah wisatawan membutuhkan informasi yang lebih baik? Apakah pemandu sudah memberikan pengalaman yang menarik? Bagaimana fasilitas? Bagaimana akses? Bagaimana informasi mengenai sejarah dan budaya? Bagaimana pengalaman wisatawan ketika berada di kampung? Dari sini bisa diketahui mana yang sudah baik dan mana yang masih perlu diperbaiki. Dengan begitu, pembangunan tidak dilakukan berdasarkan perkiraan semata. Data menjadi dasar untuk menentukan prioritas.

Penelitian ITB juga membawa sejumlah pertanyaan penting ke dalam Focus Group Discussion (FGD). Di antaranya, apa masalah yang muncul di Kampung Adat Bena? Bagaimana posisi Bena sebagai destinasi wisata di Kabupaten Ngada? Apakah ada kampung adat wisata lainnya di Desa Tiwuriwu dan bagaimana kondisinya jika dibandingkan dengan Bena? Bagaimana kebijakan pemerintah terhadap desa wisata? Sejauh mana dukungan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten? Berapa dukungan anggaran untuk promosi dan pemeliharaan? Bagaimana mekanisme pengelolaan retribusi wisata? Apakah ada kerja sama dengan LSM, bank daerah atau organisasi lain? Strategi apa yang sedang dilakukan dan akan dilakukan? Dan yang tidak kalah penting, apakah masyarakat Bena mendapatkan pelatihan yang cukup untuk menghadapi perkembangan pariwisata, termasuk bahasa Inggris dan berbagai keterampilan lainnya? Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan bahwa persoalan Bena bukan hanya soal promosi. Ada persoalan pengelolaan, kelembagaan, sumber daya manusia, anggaran dan pembagian manfaat ekonomi.

Riset PPMI ITB ini dipimpin Dr. Pringgo Dwiyantoro, SE., MM., M.Si. dan beberapa  anggota terdiri dari Prof. Yogi, Ir. MP; Dr. Kartib Bayu, Ir., M.Si; Ir. Maman Suryaman, MT; serta Jamaludin, SE., MM. Penelitian juga melibatkan unsur non-ITB, yakni Andhika Riyadi, S.IP., MT dan Ari Munawar, S.Ds.

Dari kalangan mahasiswa yang terlibat dalam Riset ini adalah, Menanga Puteri Hatami, S.P.W., M.P.W.K. sebagai mahasiswa S3, serta Engelbertin Dadha Gole, S.Par., M.Par. dan Januarta D. Kusmayanti, M.P.W.K. Komposisi tim yang lintas keahlian ini membuat persoalan Bena dibaca dari berbagai sisi, mulai dari ekonomi, manajemen, perencanaan, pariwisata, teknologi hingga kehidupan sosial masyarakat.

Pada akhirnya, gagasan utama penelitian ini bukan sekadar membuat Bena lebih terkenal. Yang lebih penting adalah bagaimana nilai yang dimiliki Bena dapat memberi manfaat lebih besar bagi masyarakatnya. Teknologi digital dapat membantu promosi. CLV dapat membantu mengenali wisatawan yang memiliki nilai jangka panjang. IPA dapat membantu menentukan apa yang perlu diperbaiki.

Sementara masyarakat adat tetap menjadi pusat dari seluruh proses. Materi penelitian ITB sendiri mengarah pada terbentuknya ekosistem lokal pariwisata megalitikum yang bernilai tinggi, dengan keseimbangan antara masyarakat yang sejahtera, warisan budaya yang lestari, lingkungan yang terjaga dan ekonomi yang tumbuh. Maka, transformasi Bena bukan berarti membuat kampung adat ini menjadi seperti destinasi modern lainnya.

Justru sebaliknya.

“Bena harus menjadi semakin modern dalam cara mengelola data dan memasarkan destinasi, tetapi tetap kuat dalam menjaga identitas budayanya”.

Sebab kekuatan terbesar Bena bukan sesuatu yang perlu diciptakan. Kekuatan itu sudah ada di sana. Tantangannya adalah bagaimana teknologi, data dan strategi pariwisata membuat dunia semakin mengenal nilai tersebut, sementara manfaat ekonominya semakin banyak kembali kepada masyarakat Bena. Dari titik transit menuju destinasi bernilai tinggi. Bukan dengan mengubah Bena menjadi sesuatu yang lain, tetapi dengan mengangkat nilai Bena yang sudah ada. (TNN/Irminus Deni)