
Ende, Terranusanews.com 20 Februari 2026 — Dunia pendidikan Kabupaten Ende sedang berada di persimpangan penting. Di tengah tantangan mutu guru, disparitas sekolah negeri dan swasta, hingga target besar peningkatan literasi dan numerasi, satu nama kembali mencuat, Venantius Minggu.

Pria yang akrab disapa Venan Minggu itu kini menjabat sebagai Sekretaris sekaligus Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ende. Dalam wawancara eksklusif bersama media ini, Venan berbicara lugas, terbuka, bahkan sedikit emosional tentang misinya membenahi wajah pendidikan di tanah kelahirannya. “Saya kembali ke Ende dengan satu niat, membangun pendidikan agar lebih baik. Ini kampung saya. Ini tanggung jawab moral,” tegasnya.
Dari Nagekeo ke Puncak Prestasi NTT
Perjalanan Venan bukan kisah biasa. Tahun 2019, ia diminta oleh Bupati Nagekeo untuk mengabdi di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Nagekeo. Awalnya menjabat sebagai Kepala Bidang, ia kemudian mengikuti seleksi eselon II dan dipercaya menjadi Kepala Dinas. Di bawah kepemimpinannya, Nagekeo mencatat lompatan signifikan.
“Literasi, numerasi, dan karakter saat itu mencapai posisi tertinggi di NTT pada 2023/2024. Itu pencapaian luar biasa,” ungkapnya dengan nada bangga. Capaian tersebut bukan sekadar angka. Itu adalah indikator bahwa intervensi kebijakan, peningkatan mutu guru, dan manajemen pendidikan berjalan efektif. Kini, pengalaman itu ia bawa pulang ke Ende.
Kembali ke Kampung Halaman
Venan resmi kembali ke Kabupaten Ende pada Juli 2025. Awalnya ia ditempatkan di BKPSDM. Pada 11 April 2025, ia dilantik sebagai Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ende. Tak lama kemudian, tepat 1 Januari 2026, ia dipercaya sebagai PLT Kadis. Baru sebulan menjabat sebagai PLT, ia mengaku langsung tancap gas.
“Dalam waktu singkat kami fokus menyelesaikan progres pembangunan fisik dan nonfisik tahun 2025. Semua harus jalan,” katanya. Ia juga mengaku mendapat evaluasi sangat memuaskan dari Bupati Ende, yang ia sebut sebagai EKI. “Itu artinya kita bekerja dengan hati.”
Fokus 2026: Jangan Sampai Ende Tertinggal
Tahun 2026, menurut Venan, bukan tahun biasa. Pemerintah pusat mendorong konsolidasi nasional pendidikan pada 8–11 Januari lalu, dengan fokus besar pada peningkatan literasi, numerasi, dan karakter. “Kita harus memastikan Ende tidak tertinggal. Target kita jelas, mutu pendidikan naik, SDM meningkat, visi-misi Bupati dan Wakil Bupati berjalan,” tegasnya.
Ia menyebut kepemimpinan Yosep Badeoda dan Dominikus Mere membawa semangat “Ende Baru” dengan prioritas peningkatan sumber daya manusia. “Kalau SDM berkualitas, perubahan besar pasti terjadi di semua aspek kehidupan,” ujarnya mantap.
Masalah Besar: Disparitas Sekolah Negeri dan Swasta
Namun di balik optimisme itu, Venan tidak menutup mata terhadap masalah besar yang sedang dihadapi Ende. Menurutnya, kesenjangan antara sekolah negeri dan swasta masih sangat tinggi. “Ada sekolah swasta yang hampir semua gurunya honor. Bagaimana mungkin kualitasnya bisa sama jika distribusi guru tidak adil?” tanyanya retoris.
Regulasi menjadi kendala utama. Banyak sekolah swasta kesulitan mendapatkan guru ASN karena aturan yang belum sepenuhnya berpihak. Venan menawarkan solusi tegas, redistribusi guru. “Kita harus alihkan guru-guru yang kelebihan di sekolah negeri untuk mengabdi di sekolah swasta. Pendidikan bermutu tidak boleh hanya milik sekolah negeri.”
Ia menegaskan bahwa meskipun sekolah swasta didirikan yayasan atau masyarakat, pemerintah tetap memiliki tanggung jawab mendukung tenaga pendidik agar tidak terjadi diskriminasi layanan terhadap anak-anak.
Guru adalah Kunci
Bagi Venan, inti dari semua persoalan pendidikan ada pada guru. “Di pundak guru lahir kualitas pendidikan anak. Kalau guru kuat, literasi baik, numerasi baik, karakter anak juga baik.” Karena itu, fokus besar Dinas Pendidikan ke depan adalah:
-
Peningkatan mutu guru
-
Distribusi guru yang merata
-
Mutasi berbasis kebutuhan
-
Penempatan guru profesional di sekolah swasta
Ia mengakui pekerjaan ini berat. “Tapi kalau kita serius, indikator keberhasilan akan terlihat. Data nasional juga mengukur sekolah swasta. Jadi mereka tidak boleh tertinggal.”
Jejak Panjang Seorang ASN Pendidikan
Perjalanan Venan di dunia pendidikan sudah dimulai sejak 2002 di Dinas Pendidikan Kabupaten Ende. Ia pernah menjabat sebagai:
-
Kepala Seksi Data
-
Kepala UPTD/Cabang Dinas Nangapanda (2002–2005)
-
Kepala Cabang Dinas Ende Selatan (2006–2008)
-
Kasi PEN Ndona Timur
-
Kepala Seksi Pendidikan Dasar Luar Sekolah
-
Kepala Bidang Perencanaan (2008/2009)
-
Kepala Bidang SMA/SMK (2011/2012)
Ia juga menyelesaikan studi S2 Manajemen Pendidikan Dasar di Universitas Negeri Surabaya. Tahun 2020–2021 ia menjabat Kepala Bidang SD di Nagekeo, sebelum akhirnya menjadi Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Nagekeo periode 2022–Juni 2025. Pengalaman dua kabupaten itulah yang kini menjadi modal besarnya.
Loyalitas dan Tanggung Jawab Moral
Venan menegaskan satu hal, loyalitas. “Sebagai staf, saya loyal kepada pimpinan. Apalagi saat ini semangatnya adalah Ende Baru dengan peningkatan SDM. Itu amanah yang harus dipegang sepenuh hati.” Ia sadar perubahan tidak bisa instan. Tetapi ia percaya, dengan dukungan seluruh kepala bidang, kepala seksi, dan stakeholder pendidikan, perubahan itu bukan mimpi. “Ende harus berubah. Dan perubahan itu dimulai dari sekolah.”
Pendidikan sebagai Pertaruhan Masa Depan
Di akhir wawancara, Venan tampak lebih serius. “Kalau pendidikan gagal, daerah ini akan tertinggal. Tapi kalau pendidikan berhasil, kita sedang membangun masa depan.” Pesannya jelas, tidak boleh ada lagi sekolah yang merasa dianaktirikan. Tidak boleh ada lagi guru yang tidak berkembang. Tidak boleh ada lagi siswa yang tertinggal hanya karena status sekolahnya.
Kini, semua mata tertuju pada langkah-langkah konkret Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ende di bawah komando sementara Venan Minggu. Apakah redistribusi guru akan benar-benar berjalan? Apakah disparitas sekolah bisa ditekan? Apakah Ende mampu menyamai capaian Nagekeo di puncak literasi NTT? Waktu yang akan menjawab. Namun satu hal pasti, pertaruhan SDM Ende telah dimulai. (005/TNN)



