Ketika Pastor, suster, Umat, dan Tokoh Adat Bergerak, Pemerintah Masih Diharapkan Menyusul

Mauara Terranusanews.com – Namanya Dowo Witu. Dalam istilah teknis, ia disebut kali mati.
Namun bagi warga Mauara dan sekitarnya, Dowo Witu justru terlalu sering hidup terutama setiap kali hujan lebat turun di hulu.

Saat hujan datang, kali mati ini berubah menjadi sungai liar. Air meluap tanpa kompromi, memutus jalur lalu lintas penting Ende–Maunori–Bengga–Romba–Mauara menuju Maunori- Raja-Bajawa–Mbay pulang-pergi. Kendaraan tertahan. Aktivitas warga lumpuh. Dan penderitaan itu terus berulang, sudah bertahun-tahun lamanya.

Ironisnya, semua itu terjadi di titik yang sudah berulang kali diusulkan dalam Musrenbang Desa dan Musrenbang Kecamatan, namun selalu kandas di meja perencanaan. “Kalau hujan lebat di hulu, Dowo Witu pasti banjir. Kami sengsara,” kata seorang warga yang memilih tidak disebutkan namanya.
Ia lalu menambahkan dengan senyum getir, “Mungkin kalau ada mobil plat merah hanyut di situ, baru cepat diperbaiki.” Sebuah satire pahit, lahir dari kelelahan kolektif warga yang terlalu lama menunggu.

Usulan yang Tenggelam, Banjir yang Selalu Datang

Setiap tahun, Dowo Witu diusulkan agar ditangani serius—dibangun deker permanen agar tidak lagi menjadi titik banjir. Targetnya jelas, masuk prioritas satu (P1). Namun realitasnya juga jelas, usulan tenggelam, banjir tetap datang. Pemerintah seolah hadir dalam dokumen, tetapi absen di lapangan.

Pastor Datang, Gerakan Dimulai

Titik balik kisah ini tidak lahir dari ruang rapat pemerintah, melainkan dari pelayanan pastoral Gereja. Pengerjaan deker di kali mati Dowo Witu diinisiasi langsung oleh Pastor Paroki Hati Kudus Yesus Maunori, RD. Inosensius Dura, yang saat itu sedang melakukan pelayanan pastoral di Lingkungan Roh Kudus Mauara.

Melihat langsung dampak luapan Dowo Witu terhadap kehidupan umat, Pastor tidak berhenti pada keluhan. Ia mendorong gerakan nyata, sebuah sikap pastoral yang tidak hanya menyentuh altar, tetapi juga tanah berlumpur yang diinjak umat setiap hari.

Dorongan tersebut kemudian ditindaklanjuti secara konkret oleh Ketua Lingkungan Roh Kudus Mauara, Didimus Wawo, bersama umat Lingkungan Mauara. Tanpa menunggu proyek. Tanpa menunggu tender. Tanpa menunggu baliho peresmian.

Gotong Royong yang Menghadirkan Banyak Wajah

Kerja bakti pembangunan deker di Dowo Witu pun dimulai. Pagi itu, 12/12/2025 sejak pukul 09.00 WITA, ratusan orang berkumpul di lokasi kali mati yang selama ini menjadi momok. Terlihat hadir dan terlibat langsung dalam kerja bakti tersebut:

  • Pastor Paroki Hati Kudus Yesus Maunori, RD. Inosensius Dura

  • Kapospol Keo Tengah

  • Kepala Desa Witurombaua, Laurensius Paji, beserta perangkatnya

  • Ketua DPP Bidang Pewartaan Paroki HKYM, Andreas Bheda

  • Ketua Lingkungan Roh Kudus Mauara, Didimus Wawo

  • Para tokoh masyarakat dan para Mosalaki

  • Ratusan umat dari empat KUB wilayah Lingkungan Mauara, Desa Persiapan Kota Witurombaua

Kehadiran berbagai unsur ini menegaskan satu hal penting, ini bukan kerja segelintir orang, melainkan gerakan kolektif yang lahir dari rasa senasib dan sepenanggungan.

Semen, Pasir, dan Doa

Pembangunan deker dilakukan secara swadaya dan gotong royong. Bantuan datang dari berbagai pihak, dengan cara masing-masing:

  • Semen satu-dua sak

  • Pasir

  • Batu

  • Uang seikhlasnya

  • Tenaga tanpa upah

Semua bantuan, baik uang maupun barang, dicatat secara terbuka oleh pengurus dan bendahara Lingkungan Roh Kudus Mauara, dan akan dipertanggungjawabkan kepada umat pada hari Minggu. Di tempat ini, transparansi tidak perlu diawasi auditor. Rasa malu kepada sesama dan iman kepada Tuhan sudah cukup menjadi pengontrol.

Kali Mati, Negara Mati Rasa?

Pemandangan ini menyimpan ironi yang sulit dibantah. Sebuah kali mati di jalur vital, yang berulang kali memutus akses publik, justru ditangani lebih dulu oleh pastor, umat, tokoh adat, dan aparat setempat, bukan oleh program resmi pemerintah daerah. Gotong royong memang nilai luhur. Namun ketika gotong royong terus-menerus dipakai untuk menutup lubang kelalaian kebijakan, maka kritik menjadi sah dan perlu disuarakan.

Doa yang Sekaligus Teguran

Di akhir kegiatan, harapan kembali disampaikan, bukan dengan nada marah, tetapi dengan bahasa paling halus yang dimiliki masyarakat beriman. “Semoga ketika hati masyarakat tergerak, tergerak juga hati pemerintah daerah Kabupaten Nagekeo.”

Kalimat ini terdengar sederhana. Namun sesungguhnya, ini adalah teguran paling sopan sekaligus paling tajam. Sebab warga Mauara telah membuktikan, mereka tidak hanya menuntut, mereka bekerja, mereka tidak sekadar mengeluh, mereka bergerak.

 Jangan Tunggu Korban untuk Bertindak

Deker di Dowo Witu mungkin akan selesai. Namun persoalan dasarnya belum selesai. Jika pemerintah daerah terus menunggu hingga ada korban, hingga ada kendaraan dinas hanyut, maka yang tenggelam bukan hanya mobil, melainkan kepercayaan publik dan nurani pemerintahan itu sendiri.

Mauara sudah memberi teladan. Pastor sudah menginisiasi. Umat sudah mengerjakan. Tokoh adat sudah terlibat. Kini pertanyaannya sederhana, tapi menentukan, apakah pemerintah Kabupaten Nagekeo akan hadir sebagai solusi, atau terus membiarkan kali mati ini hidup sendirian setiap musim hujan? (TNN/Irminus Deni)