
ENDE, NTT Terranusanews.com — Senja belum sepenuhnya tenggelam ketika langkah-langkah berseragam itu memasuki halaman Pesantren Wali Sanga Ende, Minggu (22/02/2026) pukul 17.30 Wita. Angin sore berembus pelan, membawa aroma hidangan berbuka yang masih tertutup rapi di atas nampan-nampan sederhana.
Di bulan suci Ramadhan yang penuh berkah ini, jajaran Kepolisian Resor Ende memilih cara yang berbeda untuk hadir di tengah masyarakat, bukan lewat sirene, bukan lewat patroli, melainkan lewat doa dan kebersamaan.
Kapolres Ende AKBP Yudhi Franata, S.I.K., M.H., M.Tr.Opsla, didampingi komunitas alumni Dikmaba Polri 2001 yang tergabung dalam Ershi Community, datang membawa satu pesan, bahwa tugas menjaga keamanan juga berjalan seiring dengan merawat hati.
Sambutan Hangat di Rumah Ilmu
Kedatangan rombongan disambut hangat oleh para santri dan pengasuh pondok. Wajah-wajah muda itu berseri, sebagian tampak malu-malu, sebagian lagi tak ragu menyalami para tamu dengan senyum tulus.


Acara diawali dengan doa bersama. Suasana hening, hanya suara lirih permohonan yang terangkat ke langit. Ustad Damsik menyampaikan tausiah singkat yang mengalir lembut namun penuh makna, tentang pentingnya berbagi, tentang keikhlasan, dan tentang kesetaraan manusia di hadapan Tuhan.
Tak ada jarak di ruangan itu. Tak ada sekat antara seragam dan sarung, antara pangkat dan peci putih. Semua duduk sejajar, menanti waktu berbuka dengan hati yang sama, berharap ridha-Nya.
Ramadhan dan Jembatan Emosional
Dalam sambutannya, Kapolres Ende menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan tradisi tahunan yang terus dijaga.
“Tujuannya adalah saling berbagi dan mendekatkan diri dengan masyarakat, khususnya adik-adik santri di Wali Sanga ini. Secara khusus kami memohon doa dari para santri demi kelancaran tugas kepolisian di wilayah hukum Ende,” ujar AKBP Yudhi.
Nada suaranya tegas namun hangat. Ia tidak hanya berbicara sebagai pimpinan institusi, tetapi sebagai manusia yang sadar bahwa keamanan bukan semata-mata hasil strategi dan patroli, melainkan juga doa dan dukungan moral masyarakat.
“Terima kasih sudah menerima kami. Mohon doanya agar kami selalu amanah dan diberikan kelancaran dalam menjalankan tugas menjaga daerah ini,” tambahnya.
Di momen itu, jabatan terasa kecil dibandingkan kerendahan hati yang ditunjukkan.

Ershi Community: Persaudaraan yang Menjadi Aksi
Di balik kegiatan ini, ada kekompakan 24 anggota Ershi Community Polres Ende, alumni Dikmaba Polri 2001 yang dilantik pada 12 Juli 2001. Nama “Ershi” bukan sekadar identitas angkatan, tetapi simbol persaudaraan yang menembus batas wilayah dan waktu.
Ketua Ershi Community Polres Ende, Erwin Maku Djawa, menjelaskan bahwa komunitas ini dibentuk secara nasional untuk mempererat jiwa korsa dan persaudaraan antaranggota. Namun di Ende, persaudaraan itu tidak berhenti pada solidaritas internal. Ia diterjemahkan menjadi aksi sosial nyata. Kapolres pun berpesan tegas:
“Ershi Community harus tetap kompak dan solid mendukung tugas saya sebagai Kapolres. Teruslah berbagi, karena berbagi itu indah.”
Pesan itu sederhana, tetapi dalam konteks tugas kepolisian yang penuh tantangan, soliditas dan empati menjadi kekuatan yang tak ternilai.
Pelajaran Moral bagi Para Santri
Bagi para santri, momen berbuka bersama ini meninggalkan kesan mendalam. Ustad Damsik menyampaikan rasa terima kasihnya atas kunjungan dan perhatian yang diberikan.
“Kami belajar bagaimana berbagi dalam kebersamaan. Di sini kita bisa saling melihat satu sama lain karena kita semua sama di mata Tuhan,” ungkapnya.
Kalimat itu menggetarkan. Di tengah dunia yang kerap diwarnai perbedaan dan sekat sosial, pesan kesetaraan terasa begitu relevan.
Para santri menyaksikan langsung bahwa aparat penegak hukum tidak hanya hadir ketika ada masalah, tetapi juga ketika ada kesempatan untuk menebar kasih.
Berbuka dalam Kesederhanaan
Saat azan magrib berkumandang, semua yang hadir menengadahkan tangan. Doa terucap dalam hening yang khusyuk. Lalu segelas air dan hidangan sederhana menjadi penanda berbuka.
Tak ada kemewahan. Tak ada protokol kaku. Yang ada hanyalah kebersamaan. Suara tawa kecil terdengar di sudut ruangan. Sendok beradu pelan dengan piring. Di luar, langit semakin gelap, namun di dalam pesantren itu cahaya kebersamaan terasa terang.

Polisi dan Doa Rakyat
Momentum Ramadhan kembali membuktikan bahwa kehadiran polisi tidak selalu harus identik dengan tindakan represif. Ada sisi lain yang mungkin jarang tersorot, sisi humanis yang merangkul, mendengar, dan berbagi.
Di Pesantren Wali Sanga sore itu, seragam dan doa bertemu dalam satu ruang. Tidak ada jarak, tidak ada sekat. Yang ada hanyalah harapan, agar keamanan Ende tetap terjaga, agar tugas kepolisian berjalan amanah, dan agar kebersamaan seperti ini terus hidup, bahkan setelah Ramadhan berlalu. Karena pada akhirnya, menjaga daerah bukan hanya soal hukum dan aturan. Ia juga tentang hati. (005/TNN)


