Keluarga Besar NasDem Serahkan Sapi Kurban untuk Umat Muslim di Nagekeo, Persaudaraan Lintas Agama Jadi Pesan Utama
TERRANUSANEWS.COM | NANGARORO
Di tengah menguatnya isu intoleransi dan polarisasi sosial di berbagai daerah, Kampung Tonggo, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, justru menghadirkan wajah Indonesia yang berbeda.

Melalui bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) BNI bersama Anggota DPR RI Julie Sutrisno Laiskodat dan Keluarga Besar Partai NasDem, seekor sapi kurban diserahkan kepada umat Muslim di Masjid Baiturrahim Tonggo menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, Rabu (27/5/2026).
Bantuan sapi kurban tersebut diserahkan langsung oleh Anggota DPRD Kabupaten Nagekeo Fraksi NasDem Anton Sukadame Wangge bersama jajaran pengurus Partai NasDem kepada masyarakat Muslim setempat.
Meski berlangsung sederhana di halaman kampung, suasana penyerahan dipenuhi rasa kekeluargaan dan semangat persaudaraan lintas agama.

Bagi masyarakat Tonggo, bantuan itu bukan sekadar soal hewan kurban. Lebih dari itu, masyarakat melihatnya sebagai bentuk perhatian, kepedulian, dan penghormatan terhadap keberagaman yang selama ini hidup harmonis di Kabupaten Nagekeo.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Ketua DPW NasDem NTT Anwar Pua Geno, Sekretaris DPD NasDem Nagekeo Petrus Nunu Ruto, Tenaga Ahli Anggota DPR RI Julie Laiskodat Veronika Aja, tokoh agama, panitia kurban, dan masyarakat setempat.
Politik yang Memilih Menjaga Persaudaraan
Dalam sambutannya, Anton Sukadame Wangge mengatakan bahwa Iduladha merupakan momentum penting untuk memperkuat solidaritas sosial dan semangat berbagi di tengah masyarakat.
“Semoga bantuan ini membawa manfaat bagi umat Muslim di Tonggo dan menjadi bagian dari semangat kebersamaan serta persaudaraan antarwarga,” ujarnya.
Menurut Anton, nilai utama Iduladha tidak hanya terletak pada ibadah kurban semata, tetapi juga pada keikhlasan berbagi dan menghadirkan kebahagiaan bagi sesama, terutama masyarakat yang membutuhkan.
Di tengah situasi bangsa yang sering diramaikan oleh perdebatan identitas dan perbedaan politik, masyarakat Tonggo justru menunjukkan bahwa toleransi bisa hidup melalui tindakan-tindakan sederhana yang menyentuh kehidupan masyarakat kecil.
CSR BNI dan Kepedulian Sosial
Bantuan sapi kurban tersebut juga menjadi bagian dari kepedulian sosial melalui program CSR BNI yang mendukung kegiatan kemasyarakatan dan nilai-nilai kebersamaan di tengah masyarakat.
Sebelum diserahkan kepada panitia kurban, sapi seberat sekitar 400 kilogram itu terlebih dahulu diperiksa kesehatannya oleh dokter hewan dari Dinas Peternakan Kabupaten Nagekeo.
Langkah itu dilakukan untuk memastikan hewan kurban dalam kondisi sehat, aman, dan layak dikonsumsi masyarakat.
“Kami ingin memastikan masyarakat menerima hewan kurban yang sehat dan memenuhi syarat untuk dikurbankan,” kata Anton.
Tonggo Mengajarkan Indonesia tentang Toleransi
Tenaga Ahli Anggota DPR RI Julie Laiskodat, Veronika Aja, mengatakan bahwa semangat Iduladha harus menjadi pengingat pentingnya menjaga persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Ia menyampaikan terima kasih kepada pihak CSR BNI dan Julie Sutrisno Laiskodat yang telah memberikan perhatian kepada umat Muslim di Kampung Tonggo.
“Semoga bantuan ini membawa berkah dan semakin mempererat rasa persaudaraan di tengah masyarakat,” ujarnya.
Pantauan Terranusanews.com di lokasi, warga tampak antusias mengikuti proses penyerahan hingga penyembelihan hewan kurban. Daging kurban kemudian dibagikan kepada masyarakat dan keluarga yang membutuhkan selama rangkaian kegiatan keagamaan berlangsung.
Tokoh masyarakat Tonggo, Ruslan Belhekku, menyebut bantuan tersebut sebagai simbol toleransi dan gotong royong yang masih terjaga kuat di tengah masyarakat Nangaroro.
“Ini bukan sekadar bantuan sapi kurban. Ini tanda bahwa kebersamaan dan kepedulian antarumat beragama masih hidup dengan baik di daerah kita,” katanya.
Di sebuah kampung kecil bernama Tonggo, seekor sapi kurban akhirnya menghadirkan pesan besar tentang Indonesia. Bahwa perbedaan tidak harus melahirkan jarak. Bahwa kepedulian masih bisa tumbuh di tengah keberagaman. Dan bahwa toleransi paling indah bukan lahir dari pidato, melainkan dari tindakan nyata yang dirasakan masyarakat. (TNN/ID)



