
TERRANUSANEWS.COM | AERAMO NAGEKEO

Ratusan umat dari berbagai lingkungan di Paroki Aeramo, Kevikepan Mbay, Keuskupan Agung Ende, memadati Aula Paroki Aeramo pada Rabu malam (27/5/2026) untuk mengikuti kegiatan nonton bareng film dokumenter Pesta Babi yang dilanjutkan dengan diskusi publik mengenai isu keadilan sosial, hak masyarakat adat, dan masa depan pembangunan di Indonesia.
Kegiatan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh antusias itu menghadirkan RP. Kristoforus Tara, OFM sebagai narasumber pemantik diskusi, sementara jalannya dialog dipandu oleh Irminus Deni, aktivis kemanusiaan dari Keuskupan Agung Ende.
Sejak sore hari, umat dari berbagai lingkungan mulai berdatangan. Mereka tidak hanya ingin menyaksikan sebuah film dokumenter, tetapi juga memahami lebih jauh persoalan yang sedang dihadapi masyarakat adat di Papua sebagaimana tergambar dalam film tersebut.
Dalam sambutan pembuka, Pastor Paroki Aeramo, RP. Charles Lelu U.S.A Talu, OFM, menyampaikan apresiasi kepada seluruh umat yang meluangkan waktu untuk hadir dalam kegiatan tersebut.
Ia secara khusus mengucapkan terima kasih kepada RP. Kristoforus Tara, OFM dan Irminus Deni, yang telah bersedia datang ke Aeramo untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman bersama umat.
“Kami berterima kasih kepada Romo Kristo Tara dan Irminus Deni, yang telah meluangkan waktu untuk hadir dan berdiskusi bersama umat Paroki Aeramo. Terima kasih juga kepada seluruh umat yang telah hadir malam ini. Kehadiran Bapak, Mama, dan kaum muda menunjukkan bahwa kita masih memiliki kepedulian terhadap persoalan-persoalan kemanusiaan yang terjadi di sekitar kita maupun di berbagai daerah di Indonesia,” ujar Pastor Charles.
Menurutnya, Gereja tidak boleh menutup mata terhadap berbagai persoalan yang menyangkut kehidupan manusia dan kelestarian ciptaan. Karena itu, film dokumenter seperti Pesta Babi menjadi sarana penting untuk membangun kesadaran kritis umat.
Papua yang Kehilangan Hutan, Kehilangan Identitas
Dalam paparan pemantik diskusi, RP. Kristoforus Tara, OFM menjelaskan bahwa film Pesta Babi bukan sekadar karya sinematik biasa, melainkan sebuah narasi tentang kenyataan yang sedang dihadapi masyarakat adat Papua akibat berbagai proyek pembangunan berskala besar.
Menurutnya, film tersebut mengisahkan dampak Proyek Strategis Nasional (PSN) yang menyebabkan deforestasi besar-besaran di Papua dan mengancam keberlangsungan hidup masyarakat adat.
“Saya tahun lalu pergi ke Merauke dan bertemu langsung dengan masyarakat yang terdampak proyek-proyek tersebut. Mereka berjuang dari Papua sampai ke Jakarta untuk mempertahankan ruang hidup mereka,” kata RP. Kristoforus Tara.
Ia menjelaskan bahwa bagi masyarakat Papua, hutan bukan sekadar kumpulan pohon atau sumber ekonomi semata. Hutan adalah identitas, ruang spiritual, tempat leluhur bersemayam, sekaligus sumber kehidupan yang diwariskan turun-temurun.
“Ketika hutan dibabat, yang hilang bukan hanya pohon. Mereka kehilangan identitas, kehilangan ruang hidup, kehilangan tempat ritual dan hubungan mereka dengan leluhur. Karena itu, persoalan ini jauh lebih besar daripada sekadar pembangunan,” tegasnya.
Menurut RP. Kristo, praktik serupa berpotensi terjadi di berbagai daerah di Indonesia, termasuk wilayah Flores dan Lembata yang kini mulai bersentuhan dengan proyek-proyek strategis nasional seperti pengembangan energi panas bumi atau geotermal.
“Pertanyaannya sederhana, pembangunan ini untuk siapa? Ketika tanah masyarakat adat diambil, ketika masyarakat berhadapan dengan aparat, siapa yang sebenarnya menikmati hasil pembangunan tersebut?” ujarnya.
Gereja Tidak Boleh Diam
Dalam sesi diskusi, sejumlah peserta mengajukan pertanyaan kritis terkait hubungan antara film tersebut dengan misi Gereja.
Menanggapi hal itu, RP. Kristoforus Tara menegaskan bahwa persoalan lingkungan hidup, keadilan sosial, dan perlindungan masyarakat adat merupakan bagian tak terpisahkan dari panggilan Gereja.
“Gereja memang harus bersuara. Gereja memiliki tugas profetis untuk menyuarakan ketidakadilan dan penindasan. Ketika alam ciptaan dirusak dan masyarakat kecil kehilangan hak-haknya, Gereja tidak boleh diam,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa semangat tersebut sejalan dengan ajaran Gereja Katolik melalui ensiklik Laudato Si’ yang menyerukan perlindungan terhadap bumi sebagai rumah bersama dan pembelaan terhadap kelompok-kelompok rentan.
Menurutnya, film Pesta Babi mengajak masyarakat membangun solidaritas terhadap masyarakat Papua yang sedang berjuang mempertahankan hak-hak mereka.
“Minimal kita mengetahui bahwa saudara-saudari kita di Papua sedang menghadapi persoalan besar. Mereka meminta solidaritas. Mereka meminta kita untuk tidak menutup mata,” ujarnya.
“Film Ini Harus Diputar di Semua Lingkungan”
Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi yang berlangsung cukup panjang. Salah satu peserta, seorang ibu yang enggan menyebutkan namanya, mengaku terkesan dengan isi film dan diskusi yang berlangsung malam itu. Menurutnya, banyak umat yang belum hadir karena mengira film yang diputar hanyalah film hiburan biasa.
“Sayang sekali filmnya sangat bagus tetapi banyak orang tidak hadir. Mungkin mereka mengira film ini seperti sinetron atau film biasa. Padahal ini film dokumenter yang membuka mata kita tentang banyak hal,” ujarnya.
Ia bahkan mengusulkan agar film tersebut diputar kembali di setiap lingkungan dalam wilayah Paroki Aeramo.
“Saya mengusulkan kepada Pastor Paroki supaya film ini diputar di setiap lingkungan. Semua orang harus tahu apa yang sedang terjadi. Sekaligus menjadi pembelajaran bagi kita di Mbay dan Nagekeo agar jangan sampai mengalami hal yang sama seperti yang terjadi di Papua,” katanya disambut tepuk tangan peserta.
Membangun Kesadaran Sebelum Terlambat
Moderator diskusi, Irminus Deni, dalam penutupan kegiatan menegaskan bahwa tujuan utama pemutaran film dan diskusi tersebut bukan untuk menciptakan ketakutan, melainkan membangun kesadaran kritis masyarakat.
Menurutnya, banyak konflik agraria, persoalan lingkungan, dan sengketa tanah yang sebenarnya berawal dari rendahnya informasi dan kesadaran masyarakat terhadap hak-hak mereka.
“Kesadaran adalah langkah pertama dari setiap perjuangan. Ketika masyarakat memahami hak-haknya, memahami persoalan yang sedang terjadi, maka mereka memiliki kemampuan untuk menentukan masa depan mereka sendiri,” ujarnya.
Kegiatan nonton bareng dan diskusi film Pesta Babi itu berakhir dengan satu pesan yang terus bergema di antara para peserta bahwa pembangunan harus berpihak pada manusia, menghormati alam, dan tidak boleh mengorbankan masyarakat kecil atas nama kemajuan.
Bagi umat Paroki Aeramo, malam itu bukan sekadar menonton film. Malam itu menjadi ruang belajar bersama tentang solidaritas, keberanian bersuara, dan tanggung jawab menjaga rumah bersama sebelum semuanya terlambat.



