Nagekeo – TerraNusaNews.com
Di tengah hangatnya konflik agraria Waduk Lambo yang terus bergejolak, sebuah cerita lain muncul, cerita yang tidak terlihat di permukaan, tetapi sesungguhnya menunjukkan bagaimana suara masyarakat kecil sering dicoba dipadamkan dengan cara-cara gelap. Cerita itu datang dari balik rencana aksi damai PMKRI Cabang Ende St. Yohanes Don Bosco.

Aksi ini sejatinya sederhana, aksi damai, tertib, dan mengikuti prosedur Undang-Undang 9/1998. Namun justru yang sederhana inilah yang membuat beberapa pihak tampaknya gelisah. Karena begitu surat pemberitahuan aksi masuk ke Polres Nagekeo, sesuatu yang janggal terjadi, telepon misterius mulai berdatangan dari nomor-nomor berbeda, dengan pesan yang sama jangan demo di Nagekeo. Kisah ini dibeberkan langsung oleh Daniel Sakof Turot, Ketua PMKRI Cabang Ende St. Yohanes Don Bosco, kepada TerraNusaNews.com melalui sambungan telepon.

Menurut Daniel, peristiwa ini bermula dari langkah yang sangat biasa. PMKRI menyiapkan surat pemberitahuan aksi bagi Polres Nagekeo. Isi suratnya lengkap, sopan, dan sesuai aturan. “Tidak ada yang istimewa,” kata Daniel. Hanya prosedur formal.

Namun, beberapa jam setelah surat itu diterima, telepon asing masuk. Nomor pertama. Suara pertama.
Dan kalimat pembuka yang sangat manis untuk seseorang yang tak ingin mengaku siapa dirinya. Lalu disusul kalimat inti:

“Kami dengar ada rencana aksi. Kalau PMKRI butuh sesuatu, tinggal bilang…”

Kalimat yang dari luar terdengar seperti perhatian, tapi dari dalam terasa seperti bujukan untuk menukar suara dengan sesuatu yang tidak pantas. Esok malamnya, telepon lain masuk. Nomornya berganti. Isinya sama. Lalu telepon lain lagi. Nomor lagi-lagi berbeda. Isinya tetap sama. Daniel mulai curiga ada sesuatu yang tidak wajar.

Daniel mengaku tidak mengenal satu pun nomor yang menelponnya itu. Semua datang dari nomor-nomor baru. “Setiap kali telepon, nomornya beda. Tapi omongan mereka sama,” katanya kepada TerraNusaNews.com. Tidak ada yang bertanya soal rute aksi. Tidak ada yang bicara tentang keamanan massa. Tidak ada kekhawatiran pada ketertiban. Semua penelepon hanya fokus pada satu hal, membatalkan aksi PMKRI.

Telepon berikutnya berubah nada. Tidak lagi sekadar meminta, tetapi mengajak Daniel bertemu langsung.

“Kalau bisa, kita bertemu malam ini. Kita bicarakan baik-baik.”

Daniel tidak tinggal diam. Ia menjawab tegas:

“Kalau mau ketemu, datang ke sekretariat PMKRI. Kami tidak bertemu di tempat gelap.”

Jawaban itu tampaknya membuat lawan bicara terkejut. Beberapa detik hening. Lalu muncul tawaran yang lebih halus tapi terasa seperti jebakan,

“Kalau PMKRI butuh malam ini juga, kami antar…”

Daniel menolak. PMKRI menolak. Tidak ada ruang sedikit pun untuk kompromi.

“Kami tidak sedang butuh apa-apa. Dan kami tidak bisa dibeli,” tegas Daniel.

Pertanyaan penting muncul. Kenapa pihak-pihak misterius ini begitu takut terhadap aksi mahasiswa dan PMKRI? Aksi PMKRI selama ini dikenal damai, tertib, dan tidak pernah menimbulkan kekacauan.
Tidak ada ancaman, tidak ada indikasi konflik.

Lalu kenapa harus ada:

  • telepon gelap?

  • nomor berbeda-beda?

  • bujukan malam hari?

  • tawaran bantuan yang tidak diminta?

Satu-satunya konteks yang masuk akal adalah ini. “Waduk Lambo”. Konflik yang melibatkan:

  • tanah adat,

  • masyarakat lokal,

  • proses yang dipertanyakan,

  • dan kepentingan yang sulit dilihat secara jelas.

Ketika mahasiswa bersuara, bukan rakyat yang takut. Yang takut adalah mereka yang selama ini bekerja di wilayah abu-abu yang tidak ingin disorot.

Daniel menyampaikan sesuatu yang sangat penting:

“Mungkin mereka pikir kami aksi karena lapar… atau karena ada kesulitan di marga (PMKRI). Maka ditawari begitu. Itu pikiran yang merendahkan kami.”

Ia menambahkan:

“Kami bukan anak kecil. Kami bukan organisasi yang bisa dibayar untuk diam.”

PMKRI lahir dari tradisi panjang perjuangan moral. Selama puluhan tahun, PMKRI telah dikenal sebagai organisasi yang tidak bisa dibeli oleh kekuasaan mana pun. Dan telepon misterius itu salah membaca mereka.

Pada hari aksi, PMKRI tetap turun. Tidak ada satu pun poin sikap yang berubah. Suara mereka tetap lantang. Dan menariknya, setelah aksi itu selesai telepon gelap itu menghilang. Tidak ada yang menelpon lagi. Semua nomor misterius itu tiba-tiba diam. Seolah mereka sadar, misi mereka gagal.

Bagi Daniel Sakof Turot, kasus telepon ini bukan hanya rangkaian panggilan yang mengganggu.
Ini adalah bagian dari pola yang sudah lama terjadi dalam konflik agraria:

  • Suara rakyat dicoba dibungkam.

  • Aksi mahasiswa dihalangi.

  • Bantuan misterius ditawarkan.

  • Pertemuan gelap diminta.

  • Dan kampanye senyap dilakukan melalui jalur panggilan pribadi.

Tetapi kali ini, upaya itu tidak berhasil. Karena mahasiswa menolak. Karena integritas lebih kuat dari amplop. Karena keberanian lebih besar dari ancaman halus.

TerraNusaNews.com menulis kisah ini sebagai bagian dari tugas jurnalistik, memberi rakyat gambaran utuh tentang apa yang terjadi di balik keriuhan Waduk Lambo. Kisah telepon gelap ini penting.
Ia menunjukkan bahwa:

  • ada pihak yang tidak ingin aksi berjalan,

  • ada kepanikan yang muncul dari sebuah surat pemberitahuan aksi,

  • dan ada upaya membeli diam mahasiswa dan PMKRI.

Semua itu harus diketahui publik, karena suara rakyat tidak boleh dibungkam oleh siapa pun. Kasus ini memberi pelajaran penting bagi masyarakat Nagekeo, bahwa masih ada anak muda yang menjaga integritas, bahwa tidak semua perjuangan bisa dihentikan oleh telepon gelap, dan bahwa tidak semua suara bisa dibeli.

Daniel Sakof Turot dan PMKRI Cabang Ende telah menunjukkan hal itu. Dan bagi Nagekeo, keberanian semacam ini adalah tanda bahwa perjuangan atas nama kebenaran masih memiliki tempat di tanah ini. (TNN/ID)