Nagekeo NTT Terranusanews.com – Aspal itu hitam. Pekat. Membentang panjang di bawah langit panas Ngera Nuasele Nagekeo Nusa Tenggara Timur, seolah menjadi garis tegas yang memisahkan masa lalu yang penuh keterisolasian dengan harapan masa depan yang lebih terbuka.

Di atas ruas jalan Mauponggo – Ngera – Puuwanda itu, kendaraan mulai melintas tanpa ragu. Truk-truk kecil mengangkut hasil kebun, sepeda motor membawa anak-anak menuju sekolah, dan warga kini tidak lagi harus bertarung dengan lumpur saat hujan atau debu saat kemarau.

Bagi masyarakat, jalan ini bukan sekadar proyek. Ia adalah jawaban atas penantian panjang. Namun, seperti banyak cerita pembangunan lainnya, yang tampak di permukaan sering kali tidak sepenuhnya mewakili kenyataan yang ada.

Di balik lapisan aspal yang tampak rapi itu, tersimpan cerita yang lebih dalam, tentang kualitas yang dipertanyakan, pengawasan yang diuji, dan kepercayaan publik yang perlahan bergerak di antara yakin dan ragu.

Jalan yang Membawa Harapan

Program Instruksi Presiden Jalan Daerah (IJD) hadir sebagai jawaban atas persoalan klasik di banyak daerah, keterisolasian. Di wilayah seperti NTT, jalan bukan hanya soal infrastruktur. Ia adalah urat nadi kehidupan. Jalan menentukan harga barang, menentukan akses pendidikan, bahkan menentukan seberapa cepat seseorang bisa mendapatkan pertolongan saat sakit.

Selama bertahun-tahun, masyarakat di Mauponggo, Ngera, hingga Puuwanda hidup dalam keterbatasan akses. Jalan rusak membuat perjalanan menjadi mahal, lambat, dan penuh risiko. Karena itu, ketika jalan ini dibangun, harapan pun tumbuh. Harapan bahwa ekonomi akan bergerak lebih cepat. Harapan bahwa anak-anak bisa sekolah tanpa kesulitan. Harapan bahwa desa tidak lagi terisolasi. Namun, harapan selalu berjalan berdampingan dengan satu hal lain, yaitu tanggung jawab.

Ketika Kritik Menjadi Suara Rakyat

Seiring waktu, masyarakat mulai melihat lebih dekat. Dari kejauhan, jalan itu tampak sempurna. Namun dari dekat, muncul pertanyaan. Ada bagian yang dipersoalkan. Ada kualitas yang mulai dibicarakan. Ada pengawasan yang mulai dipertanyakan.

Kritik pun muncul. Dari warung kopi hingga perbincangan di rumah, warga mulai berbicara. Ini bukan sekadar keluhan. Ini adalah tanda bahwa masyarakat mulai peduli dan berani mengawasi.

Dan ini penting untuk dipahami, kritik bukan berarti masyarakat menolak pembangunan. Justru sebaliknya, kritik muncul karena masyarakat ingin pembangunan ini benar-benar baik dan bertahan lama. Masyarakat tidak ingin jalan ini hanya bagus di awal, lalu rusak dalam waktu singkat. Masyarakat tidak ingin uang negara terbuang sia-sia. Masyarakat ingin kualitas yang sebanding dengan harapan mereka.

Sikap Terbuka di Tengah Sorotan

Di tengah derasnya kritik tersebut, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek, Richard Manukoa, menyampaikan sikap yang cukup terbuka. Dalam sambungan telepon pada Kamis, 19 Maret 2026, ia menegaskan bahwa kritik bukanlah sesuatu yang harus dihindari.

“Masukan dari masyarakat menjadi bagian penting dalam evaluasi. Yang pasti, pekerjaan berjalan sesuai ketentuan dan tidak merugikan negara, terutama karena manfaatnya langsung dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Pernyataan ini penting. Ia menunjukkan bahwa pemerintah tidak menutup diri terhadap kritik. Namun, agar masyarakat benar-benar memahami, ada beberapa hal yang perlu dijelaskan secara sederhana.

Apa Artinya “Sesuai Ketentuan”?

Ketika disebut bahwa pekerjaan “sesuai ketentuan”, itu berarti proyek ini mengikuti aturan teknis yang sudah ditetapkan, mulai dari ketebalan aspal, bahan yang digunakan, hingga cara pengerjaan.

Semua itu sudah diatur dalam dokumen proyek. Namun, masyarakat juga punya cara sendiri untuk menilai. Mereka tidak membaca dokumen, tetapi melihat langsung kondisi jalan.

Jika jalan cepat rusak, masyarakat akan bertanya. Jika ada bagian yang tidak rapi, masyarakat akan curiga. Di sinilah pentingnya keterbukaan, agar penilaian teknis dan pengalaman masyarakat bisa saling bertemu.

Apa Maksudnya “Tidak Merugikan Negara”?

Dalam bahasa sederhana, “tidak merugikan negara” berarti anggaran yang digunakan tidak disalahgunakan dan pekerjaan dilakukan sesuai nilai yang dibayarkan. Namun bagi masyarakat, kerugian tidak selalu soal uang.

Kalau jalan cepat rusak, masyarakat tetap merasa rugi. Kalau harus diperbaiki terus-menerus, itu juga pemborosan. Artinya, kualitas pekerjaan sangat menentukan apakah proyek ini benar-benar menguntungkan atau justru menjadi beban di masa depan.

Kenapa Kritik Itu Penting?

Kritik dari masyarakat sebenarnya adalah bentuk kepedulian. Tanpa kritik, proyek bisa berjalan tanpa kontrol. Tanpa pengawasan, kesalahan bisa terjadi tanpa diperbaiki. Kritik adalah cara masyarakat menjaga agar pembangunan tetap berada di jalur yang benar.

Dalam dunia pembangunan modern, ini disebut sebagai “kontrol sosial” artinya masyarakat ikut mengawasi agar pekerjaan berjalan dengan baik. Dan ini bukan hal buruk. Justru ini tanda bahwa masyarakat semakin sadar dan aktif.

Tantangan Sebenarnya: Dari Mendengar ke Bertindak

Namun ada satu hal yang lebih penting dari sekadar mendengar kritik, yaitu menindaklanjutinya. Masyarakat tidak hanya ingin didengar. Masyarakat ingin melihat perubahan nyata.

Jika ada kekurangan, apakah diperbaiki? Jika ada masalah, apakah ditindaklanjuti? Di sinilah kepercayaan publik diuji. Karena kepercayaan tidak dibangun dari kata-kata, tetapi dari tindakan nyata di lapangan.

Jalan Ini Bukan Sekadar Infrastruktur

Ruas jalan Mauponggo–Ngera–Puuwanda kini memiliki makna yang lebih dalam. Ia bukan hanya jalan. Ia adalah simbol. Simbol bagaimana negara hadir di tengah masyarakat. Simbol bagaimana uang rakyat digunakan. Simbol bagaimana pemerintah mendengar suara rakyat. Jika jalan ini berkualitas baik dan bertahan lama, maka kepercayaan masyarakat akan meningkat. Namun jika sebaliknya, maka kepercayaan itu bisa perlahan hilang.

Waktu Akan Menjadi Jawaban

Pada akhirnya, semua akan diuji oleh waktu. Jalan yang baik akan bertahan. Jalan yang buruk akan cepat rusak. Masyarakat tidak perlu teori yang rumit. Mereka hanya perlu melihat dan merasakan. Apakah jalan ini masih kuat dalam beberapa tahun ke depan? Apakah manfaatnya benar-benar berkelanjutan? Jawaban atas pertanyaan itu tidak ada hari ini. Ia akan terlihat seiring waktu.

Di Atas Aspal, Ada Kepercayaan

Hari ini, jalan itu masih tampak hitam dan rapi. Kendaraan terus melintas. Aktivitas masyarakat mulai berubah. Namun di atas aspal itu, ada sesuatu yang lebih besar yang sedang berjalan, kepercayaan.

Kepercayaan bahwa pembangunan ini dilakukan dengan jujur. Kepercayaan bahwa kualitasnya terjaga.
Kepercayaan bahwa suara masyarakat benar-benar didengar. Dan seperti jalan itu sendiri, kepercayaan juga harus dirawat.

Jika dijaga, ia akan kuat dan bertahan lama. Namun jika diabaikan, ia bisa retak—perlahan, tapi pasti. Di Mauponggo–Ngera–Puuwanda, bukan hanya jalan yang sedang dibangun. Di sana, kepercayaan masyarakat juga sedang dipertaruhkan. (004/TN)