Oleh: Irminus Deni
Alumni Universitas Bung Karno Jakarta

Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Upacara digelar dari Sabang sampai Merauke. Bendera berkibar, pidato kenegaraan disampaikan, dan masyarakat diajak kembali mengingat lima sila yang menjadi dasar kehidupan berbangsa.

Namun ada satu pertanyaan yang selalu menarik untuk diajukan, mengapa Ende, sebuah kota kecil di pesisir selatan Pulau Flores, memiliki tempat yang begitu istimewa dalam sejarah lahirnya Pancasila?

Jawabannya tidak hanya terletak pada kisah pengasingan seorang tokoh bernama Soekarno. Jawabannya juga tersimpan dalam perjumpaan panjang antara seorang nasionalis Muslim dengan masyarakat Flores yang mayoritas Katolik; dalam dialog antara budaya lokal, nilai kemanusiaan, dan pengalaman hidup bersama yang kemudian melahirkan sebuah gagasan besar bernama Indonesia. Pancasila tidak lahir di ruang sidang. Ia lahir dari pergulatan batin. Dan salah satu ruang pergulatan itu adalah Ende.

Dari Pembuangan Menjadi Perenungan

Tahun 1934, pemerintah kolonial Belanda mengasingkan Soekarno ke Ende. Bagi Belanda, pengasingan adalah cara untuk membungkam suara seorang pemimpin pergerakan yang dianggap berbahaya. Mereka mungkin berpikir bahwa dengan menjauhkan Soekarno dari pusat politik Jawa, semangat perjuangan akan padam. Namun sejarah justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Di Ende, Soekarno menemukan ruang sunyi untuk berpikir.

Ia jauh dari hiruk-pikuk politik. Tidak ada rapat besar. Tidak ada pidato yang mengguncang massa. Yang ada hanyalah kesunyian, laut yang membentang luas, masyarakat sederhana, dan perjumpaan dengan berbagai kelompok yang berbeda keyakinan.

Di bawah sebuah pohon sukun yang kini dikenal sebagai Pohon Pancasila, Soekarno sering duduk merenung. Ia memikirkan pertanyaan besar yang belum terjawab, jika Indonesia merdeka suatu hari nanti, di atas dasar apa bangsa yang sangat beragam ini akan berdiri? Pertanyaan itu tidak sederhana.

Indonesia bukan negara yang dihuni satu suku, satu agama, atau satu budaya. Indonesia adalah kumpulan ribuan pulau, ratusan etnis, dan beragam keyakinan. Jika dasar negara dibangun hanya untuk satu kelompok, maka kelompok lain akan merasa tersisih. Jika negara berdiri atas nama mayoritas semata, maka keberagaman akan berubah menjadi sumber konflik. Di Ende, Soekarno mulai menemukan jawabannya.

Gereja yang Membuka Ruang Dialog

Salah satu babak penting dalam pengasingan Soekarno di Ende adalah hubungan akrabnya dengan para imam Katolik misionaris Serikat Sabda Allah (SVD). Di kota kecil itu, Soekarno tidak hidup dalam isolasi total. Ia berdiskusi dengan para pastor, membaca berbagai literatur, dan terlibat dalam percakapan-percakapan intelektual yang memperkaya cara pandangnya.

Di antara tokoh yang sering disebut adalah Pastor Huijtink SVD dan para misionaris lain yang membuka ruang dialog bagi Soekarno. Perlu dipahami, hubungan ini bukan hubungan politik. Ini adalah hubungan kemanusiaan dan intelektual.

Seorang Muslim berdiskusi dengan para pastor Katolik. Mereka berbeda keyakinan, tetapi tidak saling meniadakan. Mereka berdebat, bertukar pikiran, dan saling menghormati. Dalam konteks Indonesia masa kini yang kadang masih diramaikan oleh politik identitas dan sentimen agama, kisah Ende menjadi sangat relevan.

Sebab di kota kecil ini, jauh sebelum Indonesia merdeka, praktik toleransi sudah dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Soekarno belajar bahwa perbedaan tidak harus menjadi ancaman. Justru dari perbedaan itulah lahir kekayaan gagasan.

Bukan kebetulan jika sila pertama Pancasila berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa“, bukan nama agama tertentu. Bukan pula kebetulan jika sila-sila berikutnya berbicara tentang kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial. Nilai-nilai itu tumbuh dari pengalaman hidup bersama yang nyata. Dan Ende adalah salah satu laboratorium kehidupan itu.

Flores yang Mengajarkan Indonesia

Di Ende, Soekarno tidak hanya berjumpa dengan para pastor. Ia juga menyaksikan kehidupan masyarakat Flores yang hidup dalam tradisi gotong royong, solidaritas, dan penghormatan terhadap sesama. Ia melihat bagaimana masyarakat adat menjaga keseimbangan hidup bersama. Ia melihat bagaimana perbedaan tidak menghalangi orang untuk saling membantu.

Di kampung-kampung di Ende, seseorang tidak ditanya terlebih dahulu apa agamanya sebelum ditolong. Orang tidak diperiksa asal-usul sukunya sebelum dibantu membangun rumah dan sebagainya.

Nilai-nilai itu hidup dalam praktik sehari-hari. Barangkali di sinilah Soekarno menemukan bahwa Indonesia bukan sekadar proyek politik, melainkan proyek peradaban. Sebuah bangsa hanya dapat bertahan jika dibangun di atas penghormatan terhadap martabat manusia. Pancasila kemudian menjadi rumusan dari pengalaman tersebut. Ia bukan doktrin yang jatuh dari langit. Ia lahir dari pengalaman hidup bangsa Indonesia sendiri.

Ende Bukan Sekadar Lokasi Sejarah

Karena itulah Hari Lahir Pancasila memiliki hubungan emosional yang sangat kuat dengan Ende. Memang secara formal Pancasila disampaikan Soekarno dalam pidato 1 Juni 1945 di Jakarta. Namun benih-benih pemikirannya tumbuh dan berkembang selama masa pengasingan di Ende.

Jakarta adalah tempat Pancasila diucapkan. Tetapi Ende adalah tempat Pancasila direnungkan. Jakarta menjadi panggung sejarah. Ende menjadi ruang kontemplasi sejarah. Tanpa Ende, mungkin perjalanan intelektual Soekarno akan berbeda.

Tanpa Ende, mungkin proses pematangan gagasan tentang Indonesia yang inklusif tidak akan berlangsung dengan cara yang sama. Karena itu, setiap kali bangsa ini memperingati Hari Lahir Pancasila, Ende sebenarnya sedang mengingatkan Indonesia tentang akar terdalam dari ide kebangsaan.

Ketika Pancasila Hanya Menjadi Upacara

Sayangnya, setelah puluhan tahun merdeka, Pancasila sering kali lebih banyak diperingati daripada dihidupi. Kita hafal lima sila, tetapi masih mudah saling menghina karena perbedaan pilihan politik. Kita berbicara tentang persatuan, tetapi masih sering mencurigai mereka yang berbeda agama atau etnis.

Kita mengagungkan keadilan sosial, tetapi ketimpangan ekonomi masih menjadi kenyataan sehari-hari. Pancasila kadang berhenti sebagai slogan. Padahal bagi Soekarno, Pancasila adalah jalan hidup. Yang dibutuhkan bangsa ini bukan sekadar upacara yang khidmat setiap 1 Juni. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk menghidupi semangat Ende, semangat dialog, semangat keterbukaan, dan semangat menghormati perbedaan.

Gereja dan Tanggung Jawab Merawat Pancasila

Bagi Gereja Katolik, kisah Ende memiliki makna yang sangat mendalam. Gereja bukanlah pencipta Pancasila. Tetapi Gereja memiliki peran penting dalam menyediakan ruang dialog yang ikut memperkaya proses pemikiran Soekarno.

Karena itu, merawat Pancasila juga merupakan bagian dari panggilan Gereja. Ketika Gereja berbicara tentang martabat manusia, ia sedang menghidupi sila kedua. Ketika Gereja memperjuangkan perdamaian, ia sedang menghidupi sila ketiga. Ketika Gereja membela kaum miskin dan tersingkir, ia sedang menghidupi sila kelima. Dengan kata lain, nilai-nilai Pancasila dan ajaran sosial Gereja bertemu dalam satu titik, penghormatan terhadap manusia sebagai ciptaan Tuhan yang bermartabat.

Dari Ende untuk Indonesia

Hari ini, ketika kita berdiri di hadapan berbagai tantangan kebangsaan, polarisasi politik, intoleransi, krisis lingkungan, ketimpangan sosial, hingga derasnya arus individualisme, Ende kembali berbicara kepada Indonesia. Kota kecil itu seakan berbisik kepada bangsa ini bahwa Indonesia tidak dibangun oleh kebencian. Indonesia lahir dari perjumpaan. Indonesia tumbuh dari dialog. Indonesia berdiri karena ada kesediaan untuk menerima perbedaan.

Di bawah naungan pohon sukun yang teduh itu, seorang pengasing pernah membayangkan sebuah bangsa yang tidak mempersoalkan apakah seseorang berasal dari Jawa atau Flores, Islam atau Katolik, kaya atau miskin. Yang penting adalah semua merasa menjadi bagian dari rumah yang sama bernama Indonesia.

Itulah sebabnya Ende tidak pernah sekadar menjadi titik di peta. Ende adalah ruang kelahiran sebuah gagasan besar. Gagasan bahwa perbedaan bukan alasan untuk berpisah, melainkan alasan untuk bersatu. Dan selama Indonesia masih percaya pada gagasan itu, selama itulah api Pancasila akan tetap menyala dari Ende untuk Indonesia.

Selamat Hari Lahir Pancasila.

“Aku menggali Pancasila dari bumi Indonesia.” Kalimat Soekarno itu menemukan maknanya yang paling dalam ketika kita menatap kembali Ende, tanah sunyi tempat seorang pengasing menemukan wajah Indonesia yang sesungguhnya.