
Di kota kecil yang jauh dari pusat kekuasaan kolonial, seorang tahanan politik menemukan jawaban atas pertanyaan terbesar bangsa, bagaimana Indonesia dapat hidup bersama dalam keberagaman.
Oleh: Irminus Deni
Alumni Universitas Bung Karno Jakarta
Pada pagi 1 Juni 1945, sebuah ruangan di Jakarta dipenuhi tokoh-tokoh yang kelak dikenang sebagai para pendiri bangsa. Di hadapan mereka berdiri seorang pria yang sebelas tahun sebelumnya dibuang oleh pemerintah kolonial Belanda ke sebuah kota kecil di Flores bernama Ende.
Pria itu adalah Soekarno. Ia berdiri bukan sebagai tahanan politik. Bukan sebagai orang buangan. Bukan sebagai musuh negara kolonial. Ia berdiri sebagai seorang pemikir yang membawa sebuah gagasan besar tentang Indonesia.


Hari itu, di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, Soekarno memperkenalkan lima prinsip yang kemudian dikenal sebagai Pancasila.
Tetapi untuk memahami mengapa pidato itu begitu penting, kita harus mundur sebelas tahun ke belakang. Ke sebuah kota kecil di Flores. Ke sebuah rumah sederhana di Ende. Ke sebuah masa ketika Indonesia bahkan belum pasti akan lahir. Karena sesungguhnya, Pancasila tidak lahir di Jakarta. Jakarta hanya menjadi tempat ia diumumkan. Pancasila dikandung dalam kesunyian di Ende.
Belanda Membuang Soekarno, Tetapi Tidak Bisa Mengasingkan Pikirannya
Tahun 1934, Belanda menganggap Soekarno terlalu berbahaya. Pidato-pidatonya mengobarkan semangat rakyat. Tulisannya menyulut kesadaran nasional. Pengaruhnya terus meluas. Maka pemerintah kolonial mengambil jalan yang mereka anggap paling efektif, mengasingkannya sejauh mungkin dari pusat pergerakan. Pilihan jatuh pada Ende.
Bagi Belanda, Ende adalah tempat yang ideal. Jauh dari Jawa. Sulit dijangkau. Terisolasi. Tetapi mereka gagal memahami satu hal, yaitu pemikiran tidak bisa dipenjara. Di Ende, Soekarno kehilangan podium politik. Namun ia memperoleh sesuatu yang jauh lebih berharga, waktu untuk berpikir. Dan sejarah sering membuktikan bahwa ide-ide besar lahir bukan di tengah keramaian, melainkan di tengah kesunyian.
Ende yang Mengubah Cara Pandang Soekarno
Sebelum datang ke Flores, nasionalisme Soekarno banyak dibentuk oleh pergulatan politik di Jawa. Namun Ende memberinya pengalaman baru. Di kota kecil itu ia hidup berdampingan dengan umat Katolik, umat Islam, masyarakat adat, guru-guru misi, para pastor, nelayan, petani, dan rakyat kecil.
Ia melihat keberagaman Indonesia dalam bentuk yang paling nyata. Di Ende, Soekarno bergaul dengan para misionaris SVD yang memiliki wawasan internasional luas. Ia berdiskusi dengan pastor-pastor yang berasal dari Eropa namun mencintai masyarakat Flores.
Salah satu sahabat intelektualnya yang sering disebut dalam berbagai catatan adalah Pastor Huijtink, SVD dan sejumlah imam misionaris lainnya. Percakapan-percakapan itu membuka cakrawala baru. Di sana Soekarno mulai memahami bahwa Indonesia tidak mungkin dibangun hanya dengan semangat anti-kolonial. Indonesia membutuhkan dasar moral yang mampu menyatukan semua golongan.
Pohon Sukun Itu Hanya Sebagian Kecil dari Cerita
Banyak orang mengenal kisah Soekarno yang merenung di bawah Pohon Sukun. Namun sebenarnya kehidupan Soekarno di Ende jauh lebih kaya daripada sekadar duduk bermeditasi. Setiap kali kapal Ratu Rosari, kapal milik para misionaris SVD yang melayani rute antarpulau, tiba dari Jawa, Soekarno selalu menunggu dengan penuh harap.
Melalui kapal itulah surat-surat datang. Melalui kapal itu pula teman-temannya di Jawa mengirim buku, koran, majalah, tulisan politik, dan berbagai bahan bacaan. Bayangkan situasinya. Di sebuah kota kecil yang jauh dari pusat peradaban kolonial, Soekarno tetap mengikuti perkembangan dunia.
Ia membaca terus-menerus. Ia mempelajari sejarah revolusi. Ia membaca filsafat Barat. Ia mengikuti perkembangan gerakan kemerdekaan di berbagai negara. Ia menelaah pemikiran Islam, nasionalisme, sosialisme, demokrasi, dan humanisme. Sementara tubuhnya terasing di Flores, pikirannya berkelana ke seluruh dunia. Karena itu, pengasingan Soekarno di Ende sesungguhnya bukan masa istirahat politik. Itu adalah masa kuliah besar yang ia jalani sendiri.
Teater Sebagai Laboratorium Kebangsaan
Ada satu hal yang sering luput dari perhatian. Selama di Ende, Soekarno sangat aktif di dunia teater. Ia mendirikan kelompok sandiwara Kelimutu Toneel Club. Bagi sebagian orang, itu hanya kegiatan seni. Padahal lebih dari itu. Melalui panggung teater, Soekarno belajar memahami karakter manusia.
Ia belajar tentang konflik sosial. Ia belajar menyampaikan gagasan kepada masyarakat dengan bahasa yang mudah dipahami. Ia menulis naskah. Ia menyutradarai pertunjukan. Ia melatih pemain.
Apa yang dilakukan Soekarno di panggung teater sebenarnya mirip dengan apa yang kelak ia lakukan di panggung politik nasional, menyatukan banyak orang yang berbeda dalam satu cerita besar bernama Indonesia.
Sidang BPUPKI: Pertemuan Para Pendiri Bangsa
Ketika Jepang membentuk BPUPKI pada tahun 1945, badan ini diisi oleh tokoh-tokoh terkemuka dari berbagai latar belakang. Di dalamnya ada tokoh-tokoh seperti:
- Radjiman Wedyodiningrat
- Mohammad Hatta
- Mohammad Yamin
- Soepomo
- Ki Bagus Hadikusumo
- Abikoesno Tjokrosoejoso
- A.A. Maramis
- Wachid Hasyim
- Agus Salim
- Otto Iskandardinata
Mereka berasal dari agama, suku, dan pandangan politik yang berbeda. Sidang itu bukan ruang yang mudah. Di dalamnya ada perdebatan keras tentang bentuk negara. Tentang hubungan agama dan negara. Tentang sistem pemerintahan. Tentang masa depan Indonesia. Dan di tengah perdebatan itulah Soekarno berdiri.
Sesungguhnya yang Dipresentasikan Soekarno Bukan Pancasila
Ini bagian yang sering disalahpahami. Pada 1 Juni 1945, Soekarno tidak sekadar menawarkan lima sila. Yang ia tawarkan sebenarnya adalah jalan keluar dari kemungkinan perpecahan bangsa. Ia memahami bahwa Indonesia terlalu besar untuk dibangun berdasarkan satu agama.
Terlalu majemuk untuk dibangun berdasarkan satu etnis. Terlalu beragam untuk dipersatukan dengan paksaan. Karena itu ia mencari titik temu. Common denominator. atau titik temu bersama, persamaan dasar, atau nilai yang dapat diterima oleh semua pihak yang berbeda-beda.
Titik perjumpaan. Ia mencari nilai yang bisa diterima seorang Muslim, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, penganut kepercayaan lokal, nasionalis, maupun sosialis. Dan pencarian itu sebagian besar dimulai di Ende.
Mengapa Ende Menjadi Penting?
Karena di Ende Soekarno belajar mendengarkan. Di sana ia tidak lagi menjadi orator besar yang disambut ribuan massa. Ia menjadi manusia biasa yang harus hidup bersama orang-orang yang berbeda. Ia melihat bahwa keberagaman bukan ancaman. Keberagaman adalah kenyataan Indonesia. Mungkin karena itulah Pancasila lahir bukan sebagai ideologi penaklukan. Pancasila lahir sebagai ideologi perjumpaan.
Sebuah Ironi Sejarah
Ada ironi besar dalam kisah ini. Belanda mengirim Soekarno ke Ende agar ia dilupakan. Tetapi justru di Ende ia menemukan gagasan yang membuatnya dikenang sepanjang zaman. Belanda ingin mengisolasinya dari Indonesia. Namun di Ende ia menemukan hakikat Indonesia.
Belanda ingin mematikan pengaruhnya. Namun dari Ende lahir pemikiran yang kemudian menjadi dasar negara bagi lebih dari 270 juta manusia. Maka ketika setiap tahun bangsa ini memperingati Hari Lahir Pancasila, sesungguhnya kita tidak hanya mengenang pidato Soekarno di Jakarta.
Kita juga perlu mengingat seorang tahanan politik yang setiap hari berjalan di pesisir Pantai Ende, membaca buku-buku kiriman sahabatnya dari Jawa, menunggu kapal Ratu Rosari merapat di pelabuhan, berdiskusi dengan para misionaris SVD, melatih pemain teater, menatap laut Flores, dan merenungkan sebuah pertanyaan besar:
Bagaimana mungkin ratusan suku, bahasa, agama, dan budaya dapat hidup bersama dalam satu rumah bernama Indonesia?
Dari pertanyaan itulah lahir sebuah jawaban. Jawaban itu disampaikan di Jakarta pada 1 Juni 1945. Tetapi benihnya tumbuh jauh sebelumnya, di sebuah kota kecil yang tenang di selatan Flores. Kota itu bernama Ende. Dan dari Ende, Indonesia menemukan dasar untuk menjadi Indonesia.


