Oleh: Selviani Dula
Mahasiswi Jurusan Manajemen, 
Universitas Flores & Anggota Aktif PMKRI Cabang Ende

Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Kartini. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa peringatan ini sering kali hanya menjadi rutinitas tahunan yang dipenuhi dengan seremoni, tanpa diiringi pemahaman yang mendalam tentang makna perjuangan Kartini itu sendiri. Padahal, jika kita mau merenung sejenak, semangat Kartini justru semakin relevan untuk dibicarakan, terutama di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat dan kompleks seperti saat ini.

Kartini bukan sekadar tokoh sejarah yang dikenang karena namanya, melainkan simbol keberanian berpikir di tengah keterbatasan. Ia lahir di Jepara pada tahun 1879, dalam situasi sosial yang menempatkan perempuan pada posisi yang sangat terbatas. Pada masa itu, perempuan tidak memiliki kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Pendidikan bagi perempuan bukanlah prioritas, bahkan sering kali dianggap tidak penting. Perempuan diharapkan untuk patuh, diam, dan menjalani kehidupan sesuai dengan norma yang telah ditentukan.

Namun, di tengah kondisi tersebut, Kartini hadir dengan cara pandang yang berbeda. Ia tidak menerima keadaan begitu saja. Ia mempertanyakan, ia mencari, dan ia mencoba memahami dunia di luar batas yang diberikan kepadanya. Melalui buku-buku yang ia baca dan surat-surat yang ia tulis kepada sahabat-sahabatnya di luar negeri, Kartini membangun pemikiran yang jauh melampaui zamannya.

Menurut saya, hal yang paling mengagumkan dari Kartini bukan hanya keberaniannya dalam menyuarakan gagasan, tetapi juga ketajaman cara berpikirnya. Ia menyadari bahwa keterbelakangan perempuan bukan hanya masalah individu, melainkan masalah sosial yang berdampak pada kemajuan bangsa. Kartini memahami bahwa perempuan memiliki peran penting dalam membentuk generasi masa depan, sehingga pendidikan bagi perempuan menjadi sesuatu yang sangat mendasar.

Gagasan-gagasan Kartini kemudian dihimpun dalam sebuah karya yang dikenal luas dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Kalimat tersebut bukan sekadar ungkapan, tetapi merupakan cerminan harapan dan keyakinan bahwa perubahan selalu mungkin terjadi, bahkan dari kondisi yang paling terbatas sekalipun.

Jika kita melihat kondisi perempuan saat ini, jelas bahwa perjuangan Kartini telah membawa perubahan besar. Perempuan kini memiliki akses yang lebih luas terhadap pendidikan, pekerjaan, dan berbagai bidang kehidupan lainnya. Tidak sedikit perempuan yang mampu meraih prestasi tinggi, menjadi pemimpin, bahkan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan negara.

Perkembangan teknologi juga menjadi faktor yang sangat berpengaruh dalam kehidupan perempuan masa kini. Teknologi membuka peluang yang tidak terbatas. Informasi dapat diakses dengan mudah, komunikasi dapat dilakukan tanpa hambatan, dan kesempatan untuk berkembang semakin terbuka lebar. Perempuan kini dapat belajar dari mana saja, bekerja secara fleksibel, bahkan membangun usaha sendiri melalui platform digital.

Namun demikian, saya berpendapat bahwa kemajuan ini tidak serta-merta menjadikan perjuangan perempuan selesai. Justru, di balik segala kemudahan tersebut, terdapat tantangan baru yang tidak kalah kompleks. Jika dahulu perempuan menghadapi keterbatasan fisik dan sosial, kini mereka dihadapkan pada tekanan yang bersifat psikologis dan kultural.

Media sosial, misalnya, sering kali menjadi ruang yang memberikan tekanan tersendiri bagi perempuan. Standar kecantikan yang tidak realistis, tuntutan untuk selalu tampil sempurna, serta perbandingan sosial yang tidak sehat dapat memengaruhi kepercayaan diri. Banyak perempuan yang merasa tidak cukup baik hanya karena tidak sesuai dengan standar yang dibentuk oleh lingkungan digital.

Selain itu, perempuan masa kini juga sering dihadapkan pada tuntutan untuk mampu menjalankan berbagai peran sekaligus. Di satu sisi, mereka diharapkan untuk berprestasi dalam pendidikan dan karier. Di sisi lain, mereka juga dituntut untuk tetap menjalankan peran dalam keluarga dan lingkungan sosial. Tidak jarang, tekanan ini menimbulkan kelelahan emosional yang tidak terlihat, tetapi sangat dirasakan.

Dalam konteks inilah, saya melihat bahwa semangat Kartini perlu ditafsirkan kembali. Perjuangan perempuan hari ini bukan lagi sekadar tentang mendapatkan akses, melainkan tentang bagaimana menggunakan akses tersebut secara bijaksana dan bermakna. Kebebasan yang dimiliki saat ini harus diiringi dengan kesadaran diri, kemampuan berpikir kritis, dan keteguhan dalam memegang nilai.

Kartini mengajarkan bahwa pendidikan adalah kunci perubahan. Namun, pendidikan yang dimaksud tidak hanya terbatas pada pendidikan formal. Lebih dari itu, pendidikan juga mencakup kemampuan untuk memahami diri sendiri, mengelola emosi, serta menyaring informasi yang diterima. Di era digital seperti sekarang, kemampuan ini menjadi sangat penting agar perempuan tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang justru merugikan dirinya sendiri.

Sebagai perempuan, penting untuk menyadari bahwa setiap individu memiliki nilai dan potensi yang unik. Tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain, karena setiap perjalanan hidup memiliki cerita yang berbeda. Menjadi perempuan yang kuat bukan berarti harus menjadi sempurna, tetapi mampu menerima diri sendiri dan terus berusaha menjadi lebih baik.

Tulisan ini juga saya maksudkan sebagai motivasi bagi perempuan, khususnya generasi muda, agar tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan. Perjalanan hidup tidak selalu mudah, dan tidak semua hal berjalan sesuai dengan harapan. Namun, seperti yang diajarkan oleh Kartini, harapan selalu ada selama kita mau berpikir dan berusaha.

Selain itu, tulisan ini juga menjadi pengingat bagi sesama perempuan bahwa kita memiliki tanggung jawab untuk saling mendukung, bukan saling menjatuhkan. Di tengah persaingan dan tekanan sosial, solidaritas antarperempuan menjadi hal yang sangat penting. Memberikan dukungan, menghargai perbedaan, dan saling menguatkan adalah bentuk nyata dari semangat emansipasi yang sesungguhnya.

Kartini tidak pernah berjuang untuk dirinya sendiri semata, melainkan untuk perempuan secara keseluruhan. Oleh karena itu, semangat yang ia tinggalkan seharusnya menjadi inspirasi untuk membangun hubungan yang lebih baik antarperempuan. Dengan saling mendukung, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan positif.

Lebih jauh lagi, saya berpendapat bahwa perempuan masa kini juga memiliki peran penting dalam menentukan arah masa depan bangsa. Dengan bekal pendidikan dan akses yang lebih luas, perempuan memiliki peluang besar untuk memberikan kontribusi yang nyata. Namun, kontribusi tersebut harus dilandasi oleh nilai-nilai yang kuat, seperti integritas, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama.

“Habis gelap terbitlah terang” bukanlah akhir dari sebuah perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Terang yang kita rasakan saat ini adalah hasil dari perjuangan panjang di masa lalu. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita menjaga dan memanfaatkan terang tersebut dengan sebaik-baiknya.

Sebagai penutup, saya ingin menegaskan bahwa semangat Kartini tidak hanya milik masa lalu, tetapi juga milik masa kini dan masa depan. Setiap perempuan memiliki kesempatan untuk melanjutkan perjuangan tersebut, dengan caranya masing-masing. Tidak harus dengan hal-hal besar, tetapi dapat dimulai dari langkah kecil, seperti terus belajar, berani bermimpi, dan tidak takut untuk menjadi diri sendiri.

Perempuan hari ini mungkin telah hidup dalam terang yang lebih luas, tetapi terang tersebut harus dijaga agar tidak kehilangan arah. Karena pada akhirnya, menjadi perempuan bukan hanya tentang kebebasan, tetapi juga tentang makna, tanggung jawab, dan keberanian untuk terus melangkah.

Dan selama semangat itu masih hidup, maka pesan Kartini akan selalu relevan, bahwa setelah gelap, selalu ada terang, dan terang itu kini ada di tangan kita untuk dijaga dan diteruskan. ***