
Ende NTT Terranusanews.com – Kamis (26/02/2026) sore, pukul 15.30 Wita, Dusun Lowonggo, Desa Rindiwawo, Kecamatan Wolowaru, tak hanya dipenuhi warna kuning jagung yang menguning sempurna. Di sana, harapan tumbuh nyata. Harapan tentang ketahanan pangan, tentang kesejahteraan petani, dan tentang kolaborasi yang tidak berhenti pada kata-kata.

Di lahan seluas 1,5 hektare milik Bapak Arkadius Jhoni, panen perdana jagung dilakukan dalam program Calon Petani Calon Lahan (CPCL). Tepat 103 hari sejak ditanam pada 12 November 2025, jagung varietas Bima 20 Uri itu berdiri gagah, siap dipetik sebagai bukti kerja keras dan pendampingan yang konsisten. Hasilnya tidak tanggung-tanggung, 10,4 ton jagung berhasil dipanen. Angka yang bagi petani di wilayah tersebut bukan sekadar statistik, melainkan lompatan besar produktivitas.
Dari Program Jadi Kenyataan
Panen ini merupakan bagian dari inovasi unggulan Kapolda NTT melalui Gerakan NTT Lumbung Jagung Nasional, sebuah gerakan yang mendorong transformasi lahan-lahan potensial di NTT menjadi pusat produksi pangan yang produktif dan berkelanjutan. Program ini tidak berhenti pada seremoni tanam perdana. Ia turun ke tanah, ke lumpur, ke kebun-kebun warga.
Kapolsek Wolowaru, Ubaldus Maku, turun langsung ke lokasi panen. Di sela-sela kegiatan, ia menegaskan bahwa peran Polri kini semakin luas.


“Ini bukan sekadar panen biasa. Ini hasil kolaborasi nyata antara Bhabinkamtibmas dan petani selama 3 bulan 12 hari terakhir. Kami ingin membuktikan bahwa program Bapak Kapolda NTT benar-benar membawa kesejahteraan bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, Polri tidak hanya hadir menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi warga, terutama di sektor pertanian yang menjadi tulang punggung masyarakat pedesaan.
103 Hari Pendampingan Intensif
Jagung varietas Bima 20 Uri yang ditanam menggunakan 15 kilogram benih itu dipantau secara intensif. Pendampingan dilakukan mulai dari proses olah lahan, penanaman, pemupukan, hingga pengendalian hama. Berdasarkan perhitungan rumus ubinan yang dilakukan bersama Kepala BPP Kecamatan Wolowaru, produktivitas yang dicapai tergolong sangat tinggi untuk skala lahan 1,5 hektare di wilayah tersebut.
Produksi 10,4 ton dalam satu musim tanam menunjukkan bahwa dengan manajemen yang baik dan pendampingan yang konsisten, potensi lahan di NTT bisa dimaksimalkan. Bagi petani, ini bukan hanya tentang hasil panen. Ini tentang kepercayaan diri yang tumbuh kembali.
Polisi di Kebun, Semangat di Hati Petani
Kehadiran aparat kepolisian di kebun mungkin terdengar tidak biasa. Namun di Lowonggo, itu menjadi pemandangan yang menguatkan. Kepala Desa Rindiwawo menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada jajaran Polsek Wolowaru. Menurutnya, kehadiran polisi bukan sekadar simbol, tetapi sumber motivasi.
“Petani merasa didampingi. Mereka merasa tidak berjalan sendiri. Itu yang membuat mereka semakin semangat,” ujarnya.
Tokoh adat Dusun Lowonggo dan seluruh anggota Kelompok Tani Lowonggo juga hadir dalam kegiatan yang berlangsung hingga pukul 17.00 Wita tersebut. Suasana meriah, tetapi tetap khidmat. Ada rasa bangga yang tidak bisa disembunyikan.
Dari Lowonggo untuk Ketahanan Pangan Nasional
NTT selama ini sering dikenal dengan tantangan kekeringan dan keterbatasan lahan produktif. Namun panen di Lowonggo membuktikan bahwa dengan pendekatan yang tepat, tanah kering pun bisa menjadi lumbung harapan. Gerakan NTT Lumbung Jagung Nasional bukan lagi sekadar slogan. Ia mulai berakar, mulai berbuah.
Dengan capaian 10,4 ton dari satu hamparan 1,5 hektare, Desa Rindiwawo kini bersiap menjadi salah satu penopang utama lumbung jagung di wilayah Kabupaten Ende. Panen sore itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Tetapi dampaknya bisa terasa bertahun-tahun.
Karena ketika jagung tumbuh subur di tanah sendiri, yang bertumbuh bukan hanya hasil pertanian, melainkan kemandirian, optimisme, dan keyakinan bahwa NTT mampu berdiri di atas kekuatannya sendiri. (005/TN)

