
Mamumere Terranusanews.com — Pagi masih muda ketika langkah rombongan berseragam itu tiba di sebuah sekolah yang sedang terluka. Di SMP Negeri 48 Sa Ate Gaikiu, Desa Bu Utara, Kecamatan Tana Wawo, Kabupaten Sikka, deru angin dan sisa-sisa hujan seolah masih meninggalkan jejak bencana yang belum sepenuhnya hilang dari ingatan.
Sekolah Ini Pernah Berdiri Tegak, Lalu Dihantam Cuaca
Musibah itu terjadi pada rentang 22–25 Januari 2026, ketika hujan deras disertai angin kencang menghantam wilayah Tana Wawo. Bangunan sekolah yang menjadi tempat ratusan anak menimba ilmu akhirnya tidak mampu bertahan.
Atap runtuh. Dinding ambruk. Ruang kelas yang dulu ramai oleh suara tawa dan pelajaran berubah menjadi puing yang sunyi. Namun di balik kerusakan itu, satu hal tidak ikut roboh: semangat anak-anak untuk tetap belajar.
Disambut “Jiwo Jawo”, Wakapolda NTT Diterima sebagai Keluarga
Setibanya di lokasi, Wakapolda NTT disambut dengan adat setempat melalui sapaan “Jiwo Jawo” oleh tokoh masyarakat. Suasana sederhana, namun penuh makna. Sebuah selendang dikalungkan sebagai tanda penghormatan dan penerimaan.
Masyarakat Tana Wawo tidak menyambut pejabat. Mereka menyambut seorang tamu yang datang membawa harapan. Dalam kegiatan itu, Wakapolda NTT turut didampingi Kapolres Sikka AKBP Bambang Supeno, Wakapolres Sikka Kompol Nofi Posu, unsur pemerintah kecamatan, serta masyarakat setempat yang sejak bencana terus berjibaku dengan keadaan.
Kepala Sekolah Cerita Luka yang Masih Basah
Pelaksana Tugas Kepala SMPN 48 Sa Ate Gaikiu, Maria Astinoli, menyampaikan kronologi kejadian robohnya bangunan sekolah. Ia menjelaskan bagaimana bencana itu berdampak besar pada proses belajar mengajar. Di hadapan rombongan, Maria tidak hanya menyampaikan data dan kronologi. Ia menyampaikan kisah sebuah sekolah yang sedang berjuang untuk tetap hidup.
Polri Datang dengan Empati dan Pesan Tegas, Pendidikan Tidak Boleh Berhenti
Dalam sambutannya, Brigjen Pol Baskoro Tri Prabowo menyampaikan empati mendalam atas musibah yang menimpa sekolah tersebut.
“Polri turut merasakan duka atas peristiwa yang menimpa para guru dan siswa. Kami hadir untuk memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan dengan baik,” ujar Wakapolda.
Kalimat itu terdengar sederhana, namun bagi para siswa dan guru yang kehilangan ruang kelas, itu adalah pernyataan tegas, bahwa mereka tidak sendiri.
Bantuan Datang, Bukan Sekadar Barang Tapi Harapan
Sebagai wujud dukungan nyata, Wakapolda NTT menyerahkan bantuan sarana pendidikan berupa:
-
100 tas sekolah berisi buku dan alat tulis
-
2 tenda Polri untuk ruang belajar darurat
-
4 papan tulis beserta perlengkapannya
-
100 set meja dan kursi (menyusul)
Bantuan itu memang belum mampu menggantikan bangunan yang roboh. Tetapi bagi sekolah ini, bantuan tersebut adalah tanda bahwa masih ada tangan yang peduli, dan masih ada perhatian yang tidak membiarkan pendidikan terhenti.
Rombongan juga meninjau langsung lokasi bangunan sekolah yang roboh, melihat puing-puing yang menjadi saksi betapa rapuhnya fasilitas pendidikan di daerah ketika alam mulai marah. Tak hanya siswa SMPN 48 Sa Ate Gaikiu, bantuan alat tulis juga diberikan kepada siswa dari SDN Gaikiu yang turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Belajar di Bawah Tenda, Tapi Mimpi Tetap Setinggi Langit
Para siswa terlihat antusias. Sebagian mungkin masih menyimpan trauma bencana, tetapi wajah mereka memancarkan semangat. Mereka berdiri, menyambut, tersenyum, bahkan berani mendekat untuk berbincang. Di sekolah ini, belajar bukan lagi soal duduk di kelas dengan dinding kokoh. Belajar adalah tentang keteguhan hati, tentang bertahan dalam situasi yang tidak ideal. Dan tenda-tenda yang dibawa Polri pagi itu menjadi simbol bahwa ruang belajar bisa dibangun dari apa saja, selama ada niat untuk tidak menyerah.
Kunjungan Aman, Wakapolda Lanjut ke Maumere
Kegiatan kunjungan berlangsung aman dan tertib dengan pengamanan dari personel Polsek Paga. Setelah rangkaian acara selesai, Wakapolda NTT bersama rombongan melanjutkan perjalanan menuju Maumere. Namun bagi SMPN 48 Sa Ate Gaikiu, kunjungan itu meninggalkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada jadwal perjalanan. Ia meninggalkan keyakinan baru, bahwa meski bangunan sekolah roboh, masa depan anak-anak Tana Wawo tidak boleh ikut runtuh.
Harapan yang Menyala di Tengah Puing
Kunjungan ini diharapkan menjadi suntikan semangat bagi para siswa dan guru agar tetap menjalankan proses belajar mengajar di tengah keterbatasan pascabencana. Di tengah bangunan yang roboh, bantuan dan perhatian itu menjadi pesan jelas, pendidikan harus tetap hidup. Sekolah boleh rusak, tapi mimpi tidak boleh patah. (005/TNN)




