
SDK Romba Lepas Siswa Kelas VI, Sebuah Perayaan Kecil dari Sekolah yang Sering Luput dari Perhatian
TERRANUSANEWS.COM, WITUROMBAUA. Selasa 2 Juni 2026 – Di kota-kota besar, kelulusan sekolah dasar mungkin hanya menjadi rutinitas tahunan. Anak-anak datang, menerima map atau amplop kelulusan, berfoto, lalu pulang. Tidak ada yang istimewa. Namun di sebuah desa kecil di pesisir selatan Kabupaten Nagekeo, amplop kelulusan itu memiliki cerita yang berbeda.
Jumat pagi itu, halaman dan ruang belajar SDK Romba dipenuhi wajah-wajah haru. Para orang tua datang dengan pakaian terbaik mereka. Sebagian berjalan kaki dari kebun. Sebagian lagi datang dengan sepeda motor yang harus melewati jalan berbatu dan debu yang setiap musim kemarau menjadi teman setia warga.
Di sekolah sederhana yang berdiri jauh dari pusat kekuasaan dan sering luput dari sorotan pembangunan itu, selembar amplop kelulusan menjadi simbol perjuangan panjang selama enam tahun. Enam tahun yang tidak selalu mudah.
Enam tahun yang bagi sebagian anak berarti berjalan kaki setiap pagi. Enam tahun yang bagi para guru berarti mengajar dengan segala keterbatasan. Dan enam tahun yang bagi para orang tua berarti terus percaya bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan yang dapat membawa anak-anak mereka melampaui batas kampung dan keadaan.
Ironis memang. Di tengah gempuran pembangunan yang sering berbicara tentang kecerdasan buatan, digitalisasi, dan transformasi pendidikan, masih ada sekolah-sekolah seperti SDK Romba yang setiap hari berjuang dalam sunyi. Tidak banyak dikunjungi pejabat. Tidak sering muncul dalam laporan keberhasilan pembangunan. Tetapi justru dari tempat-tempat seperti inilah harapan itu terus dipelihara.
Dalam sambutan pembukaannya, Kepala SDK Romba, Yasinta Wudu, S.Ag, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh orang tua dan wali murid yang selama ini telah mempercayakan pendidikan anak-anak mereka kepada SDK Romba.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh orang tua yang selama enam tahun telah bekerja sama dengan sekolah dalam mendidik anak-anak. Keberhasilan mereka hari ini bukan hanya hasil kerja guru, tetapi juga hasil perjuangan keluarga di rumah,” ujarnya.
Menurut Yasinta, pendidikan tidak pernah menjadi tugas sekolah semata. Pendidikan adalah kerja bersama antara guru, orang tua, dan masyarakat. Ia juga mengingatkan para siswa agar tidak berhenti belajar setelah menerima kelulusan.
“Kelulusan ini bukan garis akhir, tetapi langkah awal menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi,” katanya.

Suasana haru semakin terasa ketika Wali Kelas VI, Yuliana Ndaso, S.Pd, menyampaikan pesan perpisahan kepada anak-anak didiknya. Dengan suara yang sesekali bergetar, ia mengingatkan para siswa agar terus membiasakan diri membaca dan belajar.
“Rajin membaca buku. Jangan tinggalkan kebiasaan belajar. Hafalkan perkalian dengan baik karena itu akan sangat membantu kalian ketika masuk SMP. Jangan sampai nanti di SMP kalian kebingungan karena lupa dasar-dasar yang sudah dipelajari di SD,” pesannya.
Ia juga meminta para orang tua untuk memeriksa kembali dokumen kelulusan seperti rapor, ijazah, maupun data identitas lainnya.
“Silakan diperiksa baik-baik. Jangan sampai ada kesalahan penulisan nama, tanggal lahir, atau data lainnya. Jika ada kekeliruan, kami siap membantu memperbaikinya sebelum anak-anak melanjutkan pendidikan ke SMP,” tambahnya.
Di tengah acara, suasana berubah menjadi lebih emosional ketika Helena Catarin Robe, mewakili siswa-siswi kelas VI, menyampaikan pidato perpisahan. Dengan penuh kerendahan hati, ia mengucapkan terima kasih kepada para guru dan orang tua yang selama ini mendampingi mereka.
“Hari ini kami berdiri di sini karena kasih sayang, kesabaran, dan pengorbanan bapak ibu guru serta orang tua kami. Terima kasih karena tidak pernah lelah mengajar, menegur, membimbing, dan mendoakan kami,” katanya.
Helena juga menyampaikan permohonan maaf atas segala kesalahan yang mungkin pernah dilakukan selama menjadi siswa di SDK Romba.
“Mungkin ada kata-kata atau tingkah laku kami yang menyakiti hati bapak dan ibu guru. Dari hati yang paling dalam kami mohon maaf. Doakan kami agar dapat melanjutkan pendidikan dengan baik. Kami juga akan selalu mendoakan bapak dan ibu guru agar selalu diberi kesehatan dan kekuatan dalam mendidik adik-adik kami di sekolah ini.”
Sejenak ruangan menjadi sunyi. Mungkin karena mereka sadar bahwa anak-anak yang selama ini setiap pagi berlari menuju sekolah kini perlahan sedang bertumbuh meninggalkan masa kanak-kanak mereka.

Mewakili orang tua murid, Irminus Deni menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada seluruh tenaga pendidik SDK Romba. Menurutnya, menjadi guru di daerah terpencil bukanlah pekerjaan yang mudah.
“Atas nama seluruh orang tua, kami menyampaikan terima kasih yang tulus kepada bapak dan ibu guru yang selama enam tahun dengan penuh kesabaran mendampingi anak-anak kami. Kami tahu tidak mudah mendidik mereka. Kadang mereka keras kepala, kadang sulit diatur, tetapi bapak dan ibu guru tetap setia mendampingi mereka hingga hari ini,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama proses pendidikan terdapat sikap atau tindakan orang tua yang kurang berkenan di hati para guru.
“Kami sadar bahwa mendidik anak adalah tugas bersama. Jika selama ini ada kata-kata atau sikap kami yang kurang berkenan, kami mohon maaf. Terima kasih karena bapak dan ibu guru tetap bertahan dan tetap mencintai sekolah ini.“
Lebih jauh, Irminus mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan di daerah seperti Witurombaua tidak boleh hanya dibebankan kepada sekolah. Menurutnya, pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan perlu memberi perhatian lebih serius kepada sekolah-sekolah di wilayah pesisir dan pedesaan.
“Jangan sampai sekolah-sekolah di desa hanya diingat ketika ada kunjungan atau seremoni. Anak-anak di desa memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Mereka mungkin tinggal jauh dari pusat kota, tetapi mimpi mereka tidak boleh ikut dijauhkan,” tegasnya.
Acara kemudian ditutup dengan penyerahan amplop kelulusan kepada para siswa. Sederhana. Tanpa panggung megah. Tanpa dekorasi mewah. Tanpa hingar-bingar. Namun justru di situlah letak maknanya.
Karena di SDK Romba, sebuah sekolah kecil di pesisir selatan Nagekeo yang sering luput dari perhatian, pendidikan masih dirawat dengan ketulusan. Dan di tangan anak-anak yang menerima amplop kelulusan, tersimpan harapan bahwa suatu saat nanti mereka akan kembali, membangun desa mereka sendiri, dan membuktikan bahwa mimpi besar juga bisa lahir dari sekolah kecil di ujung selatan Flores. (TNN/ID)




