
Maunori Nagekeo Terranusanews.com – Pemandangan yang berbeda terlihat di halaman SMP Negeri 1 Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, Senin (13/7/2026). Jika selama ini hari pertama sekolah identik dengan keramaian para ibu yang menggandeng tangan anak-anak mereka, kali ini justru puluhan ayah hadir mengantar putra-putri mereka memasuki gerbang sekolah.
Barangkali bagi sebagian orang ini hanyalah perjalanan singkat dari rumah menuju sekolah. Namun sesungguhnya, langkah kaki para ayah itu sedang mematahkan sebuah kebiasaan lama, bahwa urusan pendidikan anak adalah urusan ibu semata.
Fenomena tersebut sejalan dengan imbauan Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, melalui Gerakan “Ayah Wajib Hadir”, yang mengajak para ayah mengantar anak pada hari pertama sekolah sebagai bentuk keterlibatan nyata dalam pengasuhan dan pendidikan. Gubernur menegaskan bahwa kehadiran ayah bukan sekadar mengantar, tetapi menjadi simbol kasih sayang, perhatian, dan tanggung jawab terhadap masa depan anak.
Di SMP Negeri 1 Keo Tengah, imbauan itu tidak berhenti sebagai tulisan dalam surat edaran. Ia menjelma menjadi kenyataan.

Kepala SMP Negeri 1 Keo Tengah, Hilarius Kila, menyambut para peserta didik baru bersama orang tua mereka dengan penuh kehangatan.
“Selamat datang kepada seluruh peserta didik baru dan para orang tua di keluarga besar SMP Negeri 1 Keo Tengah. Kami sangat bersyukur karena pada hari pertama sekolah ini banyak ayah yang meluangkan waktu mengantar anak-anaknya. Ini menunjukkan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara sekolah dan keluarga.”
Menurut Hilarius, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kualitas guru atau fasilitas sekolah, tetapi juga oleh keterlibatan orang tua dalam setiap proses tumbuh kembang anak.
“Sekolah tidak bisa berjalan sendiri. Ketika orang tua, terutama ayah, hadir sejak hari pertama, anak-anak akan merasa lebih percaya diri, lebih nyaman, dan memiliki semangat belajar yang lebih baik. Kami berharap kehadiran para ayah hari ini bukan hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi menjadi awal keterlibatan mereka dalam perjalanan pendidikan anak.”
Meski demikian, Hilarius menegaskan bahwa pihak sekolah tidak pernah mewajibkan orang tua untuk mengantar anak pada hari pertama masuk sekolah.
“Kami tidak membuat aturan bahwa orang tua harus hadir. Namun kami mengapresiasi respons masyarakat terhadap imbauan Bapak Gubernur. Kesadaran seperti inilah yang sebenarnya ingin dibangun.”
Di antara para ayah yang hadir, Franki Ndoa mengaku baru menyadari bahwa mengantar anak ke sekolah ternyata memberikan pengalaman yang berbeda.
“Betul apa yang disampaikan Bapak Gubernur. Selama ini kami para bapak biasanya hanya melihat anak berangkat dari rumah, lalu menganggap tugas kami selesai. Kami tidak pernah benar-benar tahu seperti apa lingkungan sekolah anak kami. Biasanya semua urusan sekolah diserahkan kepada ibu.”
Franki mengatakan, langkah sederhana mengantar anak justru membuka ruang komunikasi baru antara ayah dan anak.
“Hari ini saya melihat sendiri ruang kelasnya, bertemu kepala sekolah dan guru-gurunya. Saya tahu teman-teman anak saya. Ternyata ini penting sekali. Anak juga merasa lebih percaya diri ketika ayahnya hadir.”
Ia berharap kebiasaan tersebut tidak berhenti hanya karena adanya imbauan pemerintah.
“Sekolah memang tidak mewajibkan orang tua mengantar anak. Tetapi sebagai orang tua kita harus sadar bahwa mendukung pendidikan anak bukan hanya membayar uang sekolah atau membeli seragam. Kehadiran kita juga bagian dari pendidikan.”
Sesungguhnya, yang berubah pagi itu bukan sekadar siapa yang memegang setang sepeda motor atau siapa yang menggenggam tangan anak menuju gerbang sekolah. Yang berubah adalah cara pandang.
Selama bertahun-tahun, budaya di banyak keluarga masih menempatkan pendidikan anak sebagai wilayah domestik yang lebih banyak dipikul oleh ibu. Ayah bekerja mencari nafkah, sementara urusan rapat sekolah, mengambil rapor, menemui guru, hingga mengantar anak dianggap sebagai “pekerjaan ibu”.
Padahal seorang anak tidak pernah menghitung siapa yang paling banyak mengeluarkan biaya untuk sekolahnya. Yang diingatnya justru siapa yang hadir ketika ia merasa takut memasuki ruang kelas baru.
Hari pertama sekolah mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun kenangan tentang siapa yang menggenggam tangannya menuju gerbang sekolah dapat bertahan seumur hidup.
Karena itulah, Gerakan “Ayah Wajib Hadir” sesungguhnya bukan sekadar himbauan pemerintah. Ia adalah ajakan untuk mengembalikan ayah ke ruang yang selama ini sering kosong dalam dunia pendidikan anak.
Di SMP Negeri 1 Keo Tengah, Senin pagi itu, ruang kosong tersebut mulai terisi. Bukan dengan pidato panjang. Melainkan dengan langkah-langkah sederhana para ayah yang akhirnya memilih berjalan berdampingan bersama anak-anak mereka memasuki gerbang sekolah. (TNN/Irminus Deni)



