Catatan Redaksi:
Tulisan ini adalah refleksi kritis berbasis pengalaman sosial yang dialami masyarakat di sekitar aktivitas galian C. Redaksi menegaskan bahwa artikel ini tidak ditujukan untuk menyerang individu tertentu, melainkan mengkritisi praktik pembangunan yang abai terhadap keselamatan, keadilan, dan tanggung jawab sosial. Satir digunakan sebagai cara untuk menyampaikan kegelisahan publik secara beradab, dengan harapan mendorong pembenahan kebijakan dan keberpihakan nyata kepada rakyat.

Oleh: Irminus Deni
Pemimpin Redaksi TerranusaNews.com
Di daerah kami, pembangunan punya kebiasaan unik, ia selalu datang sambil janji, tapi pulang sambil meninggalkan lumpur. Bentuk paling nyata dari kebiasaan itu bernama galian C. Sebuah aktivitas yang katanya legal, katanya berizin, katanya membantu masyarakat, dan katanya menjadi tulang punggung ekonomi lokal. Sebab di lapangan, yang paling sering kami lihat hanyalah truk bermuatan pasir dan batu yang lewat setiap hari, meneteskan bahaya di sepanjang jalan, lalu menghilang ke arah luar daerah dengan tenang dan percaya diri.
Pasir dan batu dari kampung kami bukan material biasa. Ia punya bakat luar biasa untuk berpindah tempat. Begitu keluar dari perut bumi, ia tidak betah tinggal lama. Ia langsung naik truk, menyusuri jalan rusak, melewati kampung demi kampung, dan akhirnya berlabuh di proyek-proyek megah di daerah lain. Kami tahu itu karena kami melihatnya. Setiap hari. Kami mencatatnya. Kami mengenali truknya, jamnya, arah perginya, bahkan kadang sopirnya. Ini bukan cerita warung kopi. Ini rutinitas yang bisa disaksikan siapa saja yang berdiri di pinggir jalan lebih dari satu jam.
Namun di atas panggung resmi, cerita yang lain disampaikan dengan penuh keyakinan. Seorang pejabat, dengan wajah bangga dan nada meyakinkan, pernah berkata bahwa galian C di wilayahnya sangat membantu masyarakat. Ia menyebut angka, menyebut manfaat, menyebut kesejahteraan. Ia bahkan dengan santai menyangkal bahwa pasir dan batu dari kampungnya pernah dibawa keluar daerah. Tidak pernah, katanya. Semua untuk kebutuhan lokal. Semua demi rakyat.
Kami yang mendengar pernyataan itu tidak langsung marah. Kami tertawa kecil. Bukan karena lucu, tapi karena bingung harus percaya yang mana, pernyataan di mikrofon atau truk yang lewat di depan rumah.
Sebab setiap pagi, sebelum pejabat itu selesai minum kopi di kantor, truk-truk sudah lebih dulu bekerja. Muatan tinggi menjulang, seolah sedang membawa masa depan. Tapi terpal sering dianggap sekadar aksesori opsional. Pasir menetes perlahan di jalan, batu meloncat-loncat sesuka hati, dan pengendara motor di belakangnya belajar tentang filsafat hidup, bahwa nasib bisa berubah dalam hitungan detik hanya karena satu batu kecil yang jatuh dari bak truk.
Sopir truk fokus ke depan. Itu wajar. Tapi yang di belakang sering kali dilupakan. Asal muat, kata orang kampung. Mau pasir jatuh atau tidak, mau batu mental atau tidak, mau orang jatuh atau tidak, itu urusan nanti. Yang penting tujuan tercapai, bongkar cepat, balik lagi, ulangi siklus yang sama besok pagi.
Jalan umum kini terasa seperti milik pribadi. Seolah-olah aspal ini dibuat khusus untuk menguji keberanian pengendara motor. Pagi hari berdebu, siang hari berpasir, sore hari berbatu, malam hari licin. Lengkap sudah penderitaan harian warga. Kalau hujan turun, semua itu bersatu menjadi satu paket bernama banjir lumpur. Motor selip, mobil oleng, orang jatuh. Jalan yang dulu hanya rusak, kini berubah fungsi menjadi pengingat bahwa keselamatan adalah barang mewah.
Hujan memang tidak pernah bohong. Ia datang tanpa izin, tanpa rapat koordinasi, tanpa baliho. Begitu turun, ia membuka semua yang selama ini disembunyikan. Bukit yang dicukur mulai mengalirkan tanah. Pasir yang tercecer berubah jadi lumpur licin. Drainase yang tidak pernah dipikirkan berubah menjadi sungai dadakan. Dan di saat itulah, nama galian C disebut-sebut dengan nada menyesal, seolah baru kemarin kita sadar bahwa tanah yang terus digali pasti akan membalas.
Di titik inilah jarak antara pejabat dan rakyat terasa semakin nyata. Sebab pejabat yang dengan bangga berkata bahwa galian C membantu masyarakat itu hampir pasti tidak pernah benar-benar merasakannya. Bukan karena ia tidak mau, tetapi karena hidupnya dilapisi peredam. Ia naik mobil mewah, mobil empuk, mobil berpendingin, mobil yang dibeli dari pajak rakyat. Mobil yang membuat jalan rusak terasa mulus. Lubang terasa rata. Pasir terasa tidak ada. Batu yang berceceran tidak pernah meloncat ke bawah rodanya. Kalau jalan benar-benar jelek, mobil itu tetap melaju tenang. Kalau jalan mulus, mobil itu justru membuat penumpangnya tertidur nyenyak. Dari balik kaca gelap kendaraan dinas, penderitaan rakyat hanya tampak sebagai pemandangan lewat, bukan pengalaman hidup.
Sementara itu, warga tidak punya peredam. Mereka naik motor, berjalan kaki, atau naik mobil tua yang setiap lubangnya terasa sampai ke tulang. Mereka jatuh, mereka tergelincir, mereka bangkit, lalu besok melewati jalan yang sama lagi. Maka ketika pejabat berkata semuanya baik-baik saja, kami percaya satu hal, ia jujur pada pengalamannya sendiri. Sayangnya, pengalaman itu tidak pernah sama dengan pengalaman rakyat.
Soal pajak, ceritanya lebih mistis lagi. Katanya ada pajak galian C. Katanya masuk pendapatan daerah. Katanya bisa dipakai untuk perbaikan jalan dan penanganan dampak. Tapi entah mengapa, setiap kali jalan rusak, jawabannya selalu anggaran terbatas. Setiap kali lumpur menutup jalan, jawabannya akan dikoordinasikan. Pajak itu seperti makhluk gaib, semua yakin ia ada, tapi tak seorang pun bisa menunjukkannya di depan rumah.
Jika galian C benar-benar membantu masyarakat, mengapa masyarakat tetap urunan memperbaiki jalan? Jika pasir dan batu benar-benar dipakai untuk kebutuhan lokal, mengapa truk-truk itu terus berjalan keluar daerah setiap hari? Jika semuanya sesuai aturan, mengapa dampaknya selalu ditanggung rakyat, sementara keuntungannya terasa jauh dan tak terlihat?
Penyesalan selalu datang terlambat. Setiap banjir, semua kaget. Setiap jalan tertutup lumpur, semua heran. Setiap ada korban, semua baru bertanya. Padahal truk itu lewat kemarin, minggu lalu, bulan lalu. Pasir itu jatuh terus-menerus. Batu itu meloncat saban hari. Tapi kesadaran selalu datang setelah hujan deras dan motor tergeletak di pinggir jalan.
Tulisan ini bukan ajakan memusuhi usaha, bukan pula romantisme lingkungan yang menolak pembangunan. Ini hanya jeritan waras yang dibungkus tawa pahit. Bahwa legalitas tanpa tanggung jawab adalah kebohongan yang dilegalkan. Bahwa pembangunan yang hanya lewat tanpa tinggal adalah kemunduran yang disamarkan. Dan bahwa kesejahteraan yang dibanggakan di podium, tapi tidak dirasakan di jalan, hanyalah cerita satu arah.
Pada akhirnya, persoalan galian C ini bukan sekadar soal pasir dan batu yang diangkut keluar daerah. Ini soal jarak yang semakin lebar antara mereka yang membuat kebijakan dan mereka yang menanggung akibat. Selama kebijakan dibaca dari balik kaca mobil mewah dan penderitaan rakyat hanya dilihat sebagai pemandangan pinggir jalan, selama itu pula semua akan selalu terlihat baik-baik saja di atas kertas. Padahal di bawah, rakyat terus jatuh, terus bangkit, dan terus menunggu keadilan yang dijanjikan tapi tak pernah benar-benar singgah. Dan bila suatu hari kesabaran itu habis, jangan salahkan hujan, jangan salahkan alam, dan jangan pula salahkan rakyat. Karena yang paling lama tertimbun bukan jalan, melainkan suara mereka yang selama ini memilih bertahan sambil tertawa getir.



