
SUMBA BARAT DAYA, TerranusaNews.com – Pagi itu, langkah-langkah kaki para mahasiswa menyusuri jalan berbatu menuju rumah-rumah warga di Dusun Pu’u Pollo, Desa Buru Deilo, Kecamatan Wewewa Selatan, Kabupaten Sumba Barat Daya. Di tangan mereka tergenggam lembar pendataan, sementara di hadapan mereka terbentang kenyataan yang tak bisa dibaca hanya melalui angka statistik. Mereka datang bukan sekadar menjalankan kewajiban akademik, melainkan membawa semangat untuk ikut memutus mata rantai stunting yang masih menjadi tantangan serius di desa tersebut.
Itulah potret hari pertama pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Gentaskin (Gerakan Entaskan Stunting) Batch II, yang diikuti mahasiswa gabungan dari sejumlah perguruan tinggi di daratan Sumba bersama Universitas Flores. Tanpa menunggu lama, para peserta KKN langsung turun ke lapangan melakukan observasi dan pendataan awal sebagai pijakan menyusun program yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.
Sebelum menyapa warga, mahasiswa terlebih dahulu menggelar koordinasi bersama Kepala Desa Buru Deilo. Pertemuan itu membahas kondisi desa secara menyeluruh, mulai dari sebaran penduduk, wilayah yang menjadi prioritas, hingga persoalan kesehatan dan gizi yang selama ini menjadi perhatian pemerintah desa.
Bagi Pemerintah Desa Buru Deilo, kehadiran mahasiswa bukan sekadar rutinitas tahunan. Mereka diharapkan menjadi mitra yang mampu menghadirkan gagasan, tenaga, dan solusi bagi persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Harapan kami, mahasiswa tidak hanya datang melakukan penelitian, tetapi juga hadir bersama masyarakat, mendengar kebutuhan mereka, lalu memberikan edukasi dan pendampingan yang bisa membawa perubahan,” ujar Kepala Desa.
Usai pertemuan, rombongan bergerak menuju Dusun Pu’u Pollo. Dari rumah ke rumah, mahasiswa mengamati kondisi lingkungan, ketersediaan air bersih, sanitasi, pola pengasuhan anak, hingga kebiasaan hidup keluarga. Setiap percakapan dengan warga menjadi potongan informasi penting untuk memahami akar persoalan stunting di tingkat keluarga.
Tak hanya melakukan observasi, tim KKN juga mendata keluarga yang memiliki balita, ibu hamil, serta anak-anak yang berpotensi mengalami stunting. Pendataan dilakukan secara langsung agar kondisi riil masyarakat dapat dipetakan secara lebih akurat.

Salah seorang mahasiswa peserta KKN, Skolastika Wolla Gole, mengatakan bahwa hari pertama merupakan fase paling penting dalam keseluruhan program pengabdian.
“Kami ingin memastikan setiap program yang kami jalankan benar-benar berdasarkan kebutuhan masyarakat. Karena itu, kami memilih turun langsung, melihat, mendengar, dan berdialog dengan warga sebelum menyusun kegiatan,” katanya.
Menurutnya, data yang dikumpulkan bukan sekadar memenuhi kebutuhan administrasi, melainkan menjadi fondasi penyusunan berbagai program intervensi, seperti penyuluhan gizi, edukasi pola asuh anak, pendampingan ibu hamil, hingga kampanye perilaku hidup bersih dan sehat.
Selama proses observasi, Kepala Desa Buru Deilo ikut mendampingi mahasiswa memasuki setiap sudut dusun. Ia menjelaskan karakteristik masyarakat, kondisi geografis, serta tantangan yang dihadapi pemerintah desa dalam meningkatkan kualitas kesehatan keluarga.
Kolaborasi ini menjadi gambaran bahwa penanganan stunting tidak dapat dibebankan hanya kepada tenaga kesehatan atau pemerintah semata. Perguruan tinggi, pemerintah desa, kader kesehatan, hingga masyarakat harus berjalan beriringan agar intervensi yang dilakukan benar-benar berdampak.
KKN Gentaskin Batch II dijadwalkan berlangsung selama beberapa pekan ke depan. Beragam kegiatan telah disiapkan, mulai dari penyuluhan kesehatan, pelatihan penyusunan menu bergizi berbasis pangan lokal, edukasi sanitasi, pendampingan keluarga berisiko stunting, hingga pemberdayaan masyarakat dalam membangun lingkungan yang lebih sehat.
Lebih dari sekadar menjalankan program kampus, kehadiran mahasiswa di Desa Buru Deilo menjadi simbol tumbuhnya kepedulian generasi muda terhadap masa depan anak-anak Indonesia. Sebab, di balik setiap data yang dicatat dan setiap rumah yang dikunjungi, tersimpan harapan agar semakin banyak anak dapat tumbuh sehat, cerdas, dan terbebas dari ancaman stunting.
Laporan: Selviani Dula
Editor: Irminus Deni




