KKN Tematik GENTASKIN Batch II 2026 mempertemukan delapan perguruan tinggi dengan masyarakat desa dalam upaya membangun masa depan yang lebih sehat, mandiri, dan berdaya saing.

Manggarai Timur Terranusanews.com – Di Desa Compang Loni, Kecamatan Rana Mese, Kamis (9/7/2026), pengabdian kembali menemukan maknanya. Sebanyak 34 mahasiswa dari delapan perguruan tinggi di Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak datang membawa janji, melainkan kesediaan untuk belajar, bekerja, dan bertumbuh bersama masyarakat melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik GENTASKIN (Gerakan Nyata Atasi Stunting dan Kemiskinan) Batch II Tahun 2026.
Di tengah berbagai tantangan pembangunan yang masih membayangi NTT, mulai dari tingginya angka stunting hingga persoalan kemiskinan yang saling berkaitan, kehadiran para mahasiswa menjadi penanda bahwa perguruan tinggi masih memegang salah satu fungsi terpentingnya, hadir di tengah masyarakat, bukan sekadar mencetak lulusan, tetapi ikut melahirkan solusi.
Para mahasiswa berasal dari Universitas Nusa Nipa (UNIPA) Maumere, Universitas Katolik Indonesia (UNIKA) St. Paulus Ruteng, Universitas Flores (UNFLOR) Ende, Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat (STPM) Santa Ursula Ende, STIE Karya Ruteng, Institut Nasional Flores (INF) Nagekeo, STIPER Flores Bajawa, dan Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero.
Kolaborasi lintas perguruan tinggi ini menunjukkan bahwa persoalan stunting dan kemiskinan bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah. Persoalan tersebut membutuhkan keterlibatan banyak pihak, termasuk dunia akademik yang memiliki sumber daya pengetahuan, inovasi, dan energi generasi muda untuk mendorong perubahan dari tingkat desa.
Kedatangan mahasiswa disambut hangat oleh Kepala Desa Compang Loni, Sipirianus Jumat, bersama perangkat desa, tokoh masyarakat, dan warga. Penyambutan sederhana di Kantor Desa Compang Loni menjadi awal dari kemitraan yang diharapkan mampu menghadirkan perubahan yang berkelanjutan.
Pelaksanaan KKN Tematik GENTASKIN Batch II Tahun 2026 berada di bawah pendampingan Dosen Pembimbing Lapangan Bonavantura Nursi Nggarang, S.Kep., M.Kes, dengan Novenus Uliano Taang sebagai Koordinator Desa yang mengoordinasikan seluruh kegiatan mahasiswa di lapangan.
Selama masa pengabdian, mahasiswa akan menjalankan empat program strategis yang dirancang berdasarkan kebutuhan masyarakat.
Program pertama berfokus pada edukasi gizi dan kesehatan, meliputi penyuluhan pencegahan stunting, peningkatan kesehatan ibu dan anak, pemenuhan gizi seimbang, serta penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Program kedua menyasar sanitasi lingkungan dan akses air bersih. Sebab, kesehatan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh layanan medis, tetapi juga oleh kualitas lingkungan tempat keluarga tumbuh dan berkembang.
Program ketiga diarahkan pada pemberdayaan ekonomi keluarga dan penguatan UMKM, melalui pendampingan usaha, pelatihan kewirausahaan, serta pengembangan potensi ekonomi lokal agar masyarakat memiliki sumber penghasilan yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Sementara itu, program keempat menitikberatkan pada penguatan literasi, pendidikan keluarga, kelembagaan desa, dan modernisasi sosial. Salah satu program unggulannya adalah pembentukan Pojok Baca, sebagai ruang belajar yang diharapkan mampu menumbuhkan budaya literasi di kalangan anak-anak dan masyarakat. Mahasiswa juga akan melakukan pendampingan pendidikan keluarga, penguatan kapasitas kelembagaan desa, serta mendorong pemanfaatan teknologi dalam pelayanan publik.
Koordinator Desa KKN Tematik GENTASKIN Desa Compang Loni, Novenus Uliano Taang, menegaskan bahwa seluruh program kerja disusun dengan mengedepankan kebutuhan masyarakat, bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik.
“Kami hadir bukan hanya untuk melaksanakan program KKN, tetapi juga ingin belajar bersama masyarakat dan menghadirkan program yang benar-benar bermanfaat. Melalui kolaborasi yang baik dengan pemerintah desa dan seluruh masyarakat, kami berharap setiap program dapat memberikan dampak nyata, terutama dalam mendukung percepatan penurunan stunting, pengentasan kemiskinan, serta penguatan kapasitas masyarakat Desa Compang Loni,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Compang Loni, Sipirianus Jumat, mengapresiasi kehadiran para mahasiswa yang dinilainya membawa semangat baru dalam pembangunan desa.
“Kami menyambut baik kehadiran adik-adik mahasiswa di Desa Compang Loni. Semoga seluruh program yang akan dijalankan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat serta memperkuat semangat gotong royong dalam membangun desa,” katanya.
Seluruh rangkaian kegiatan akan dilaksanakan secara partisipatif dengan melibatkan pemerintah desa, kader kesehatan, tokoh masyarakat, dan warga sebagai pelaku utama perubahan.
Yang menarik dari KKN Tematik GENTASKIN bukan hanya daftar program kerjanya. Yang lebih penting adalah pendekatan yang digunakan. Mahasiswa tidak datang sebagai “pengajar” yang merasa paling tahu, melainkan sebagai mitra belajar yang bersama-sama mencari jalan keluar atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Pembangunan desa pada akhirnya bukan diukur dari banyaknya kegiatan seremonial atau laporan yang tersusun rapi di atas meja. Keberhasilannya justru terlihat ketika masyarakat memiliki pengetahuan baru, mampu meningkatkan kualitas hidupnya, dan melanjutkan perubahan itu secara mandiri setelah mahasiswa kembali ke kampus.
Stunting dan kemiskinan memang tidak akan selesai dalam hitungan minggu. Keduanya merupakan persoalan yang kompleks, dipengaruhi oleh pendidikan, kesehatan, sanitasi, ekonomi keluarga, hingga kualitas pelayanan publik. Karena itu, setiap ikhtiar kecil yang dilakukan secara konsisten menjadi bagian penting dari proses perubahan yang lebih besar.
Di tengah berbagai tantangan pembangunan di Nusa Tenggara Timur, kolaborasi lintas perguruan tinggi menjadi salah satu fondasi penting dalam menghadirkan perubahan yang berkelanjutan. Melalui KKN Tematik GENTASKIN Batch II Tahun 2026, semangat Tri Dharma Perguruan Tinggi tidak berhenti di ruang kuliah, tetapi menjelma menjadi kerja nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat desa. Dari Compang Loni, para mahasiswa menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan menemukan makna terdalamnya ketika hadir untuk mendengar, mendampingi, dan menjadi bagian dari solusi atas persoalan stunting, kemiskinan, serta pembangunan manusia.
Komitmen tersebut sejalan dengan peran Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XV yang terus mendorong perguruan tinggi di Nusa Tenggara Timur agar melahirkan inovasi, pengabdian, dan kolaborasi yang berdampak langsung bagi masyarakat. Berbagai informasi mengenai kebijakan, program, dan aktivitas LLDIKTI Wilayah XV dapat diikuti melalui laman resmi lldikti15.kemdiktisaintek.go.id, Instagram @lldiktiwilayahxv, Facebook @LLDiktiWilayahXV, TikTok @lldiktixv, serta kanal YouTube LLDikti XV Official.
Perubahan memang tidak selalu lahir dari langkah-langkah besar. Sering kali, ia bermula dari kesediaan untuk hadir, mendengar, lalu bekerja bersama. Di Desa Compang Loni, langkah itu telah dimulai dan harapannya, jejak pengabdian para mahasiswa ini akan terus hidup, jauh melampaui masa KKN yang pada akhirnya akan selesai.
Laporan: Cicilia Yunita Naten dan Hendrikus Endi (Lokasi KKN)
Editor: Irminus Deni




